Saleem Iklim

Aku buka-buka yutub mencari lagu Saleem Iklim. Itu terjadi karena berita meninggalnya beliau meramaikan di lini masa fesbuk aku. Keberadaan Saleem di yutub didominasi oleh vlog atau wawancara khusus yang dilakukan jurnalis dan stasiun radio. Iklim sudah berubah secara fisik. Jenggotnya memutih. Kurus sekali dengan tulang pipi meninjol. Gaya bicaranya yang terbuka dan gak tahan-tahan, sangat seniman dan bahkan terkesan angkuh.

Saleem Iklim masih menyimpan kekayaan masa muda dan jayanya dan juga kurasa akan ia bawa pergi bersamanya; vokal yang khas. Serak dan ch’o ujong. Suara yang masih mememori dalam setiap generasi yang melewati masa remaja 80-90an. Meskipun Malaysia produsen musik mendayu-dayu khas melayu, Iklim dan generasi musisi zamannya mampu memacakkan keberadaannya di Indonesia.

Saleem Iklim telah berjasa banyak mendampingi remaja 90-an menghayati hidup dan kehidupan asmara mereka dalam kategori cinta monyet. Saleem Iklim mungin bukan satu-satunya yang bekerja keras mendefinisi, menarasikan dan menjabarkan apa itu cinta, penolakan, kehilangan dan kesendirian. Tapi ia adalah satu-satunya yang mampu menyentuh ruang perasaan remaja 90-an mengenali diri saat jatuh dan putus cinta.  Lagu-lagunya memenuhi ruang khayal generasi 90-an yang terkulai karena asmara. Generasi itu tiduran di kamar dengan cover album di tangan menyimak bait-bait lirik untuk mereka hapalkan.

Aku tak bisa menuliskan banyak apa yang kurasakan tentang lagu-lagu beliau. Aku tersedot terlalu dalam masuk ke lirik dan suara parau beliau yang membuat aku tak bisa berpikir jauh. Aku hanya ingat tape recorder lumayan baik milik @rezasofyan dulu tempat aku mendengar lagu Saleem.

Dulu, sekitar tahun 1995, saat aku SMP, aku terkesan sekali dengan lagu-lagu Iklim. Terasa pas benar dengan jiwaku yang remaja dan labil. Aku tidak tahu apakah aku sedang jatuh atau putus cinta? Aku tak ingat lagi. Kalau sudah begitu, Saleem adalah pencipta ruang teduh dan senyap, tempat aku dan ribuan remaja lainnya mengistirahatkan lelah jiwa. Itu mungkin saja terjadi.

Pada saat berita ia meninggal tersebar, media Indonesia menuliskan, Saleem penyanyi suci dalam debu meninggal. Rasanya, Saleem hanya terkenal dengan lagu itu. Padahal ada ratusan tembang yang terkenal di selat Malaka ini yang dinyanyikannya baik dalam grup Iklim maupun solo. Namun, media mau enak sendiri dan paling sering melakukan penyederhanaan. boh ku idum!

Lagu berjudul Si karut marut misalnya. Coba perhatikan penggalan lirik berikut:

hairan si Karut. Cuba memulih. Sedangkan diri sendiri menahan sakit.”

Lagu ini cukup sopan menyindir politisi pemula maupun mapan. Calon legislator yang mendekati pemilu berlomba-lomba memulihkan ‘penyakit’. Tapi, mereka sendiri sedang mengidap sakit bukan hanya fisik. Namun sudah menyerang kejiwaan.

Saleem mungkin agung di mata si jatuh dan putus cinta. Di telingaku, ia adalah suara parau yang menyergap perasaan.

Sebuah Proyek Mengajak Lupa

Judul gambar ini saya pilih berdasarkan hasil akhir dari konstruksi visual yang berhasil saya dirikan. Objek utama dari gambar ini adalah mesin giling yang dikendarai oleh figur jenderal di atas tanah berlumpur. Figur jenderal yang sedang melakukan proyek meratakan segala artefak kekerasan yang saya simbolkan dengan kuburan, adalah bentuk penghilangan bukti untuk lari dari tanggung jawab pengadilan dengan meratakan dengan tanah semua fakta. Bahwa kasus pelanggaran HAM hanya bisa diselesaikan dengan bentuk permintaan maaf, adalah kekeliruan elit bernegara. Korban kekerasan di masa lalu masih setia menunggu keadilan dalam sabar. Dalam hancurnya perasaan hingga air mata mereka membentuk sungai kesedihan yang menghanyutkan banyak sekali kesedihan kepada kita.
Gambar ini adalah bentuk ilustrasi yang merangkum semua jejak kekerasan di masa lalu. Kekerasan yang ditinggal di Aceh tanpa pernah diungkap dengan terbuka. Kasus-kadus pelanggaran HAM di Aceh telah disuarakan berkali-kali. Namun suaranya samar-samar menghilang di tengah gempita kampanye dan peristiwa politik elektoral yang saban menit menggoda kita untuk ikut terlibat mengomentari drama dan intrik-intrik timses. Terutama di media sosial.
Pemerintah Aceh yang kita harapkan sebagai tameng pelindung rakyat Aceh, jangankan menyuarakan suara rakyat ke pemerintah pusat, melindungi diri dari tekanan Jakarta saja tidak sanggup. Brat mumang awak nyan!
Akhirnya, kita hanya mampu menyimpan arsip itu dalam benak masing-masing dan menyuarakannya secara parau dan bahkan sudah tak terkatakan lagi. Suara rakyat nyaris bungkam dan melupa.
Bit-bit meuilanya!

Banda Aceh dalam Magrib Ulee Lheue

Jika aku seorang pelukis sentimentil, aku tak memintamu memuisikan matahari tenggelam di Ulee Lheue yang riuh lalu lalang sepeda motor. Untung saja aku pelantun azan yang tak membiarkan puisi-puisimu mendahului sembahyang.

Magrib yang reuneum dengan arak awan yang digerakkan menuju pulau Sabang, mengingatkanku pada kepergian saudara-saudaraku magrib 24 Desember 2004 lalu. Saat Ulee Lheue benar-benar sepi dan tak ada satu pun  penyair yang mampu menerjemahkan setelahnya.

Ulee Lheue tak akan jadi puisi. Kecuali pemerintah memaksa membuat satu antologi bagi penyair istana sebagai sumbangsih peradaban bahwa teks puisi sama pentingnya dengan kompetisi merebut kursi walikota Banda Aceh; terlihat beradab di permukaan.

Mungkin, dalam riak kecil di bibir pantai, aku akan menemukan pesan dari orang yang pernah diseret gelombang pada 26 Desember lalu; bahwa kota kian berkembang biak hingga merampas garis pantai. Banda Aceh tumbuh sesuai selera pemerintah dan abai bencana.

Jika aku telah jadi pelukis, aku tetap melantunkan kenangan saat-saat mendekati azan. Ulee Lheue bisa sedikit rehat.

HEROTISME

Saya cukup terhibur dengan perilaku politikus Aceh masa kini dan politikus masa lalu yang masih tetap berpolitik dengan sisa kekuatan. Saya mengamatinya dari koran harian dan paling dominan melalui media sosial fesbuk. Saya sama sekali tak terusik dengan apa yang diperbuat para politikus itu. Baik perkataan, status fesbuk dan cara-cara mereka bertengkar memperebutkan hak dalam APBA. Bagi saya, mereka seperti saya juga yang menjalankan tugas profesi. Sama-sama total dan sesekali tertawa walau tak menghibur. Atau kalau sedang sial, ditertawakan orang.

Tugas profesi politikus justru lebih berat. Selain rutin mengiklankan diri, mereka juga mesti punya nafsu lebih dan tak baik mereka tutupi nafsu itu. Nafsu diakui, terlihat bekerja keras memikirkan rakyat dan berusaha tampil bersih dari persengkongkolan. Apalagi di depan ustaz yang juga berpolitik diam-diam. Bahkan, jika mau ditambah nafus-nafsu itu, maka akan berderet membutuhkan satu lapangan bola kaki.

“Herotisme”Idrus bin harun. @2018. Pulpen pada blacu

Gambar berjudul HEROTISME saya buat sekitar bulan Juli lalu menggunakan pulpen. Itu adalah gambar pertama saya menggunakan pulpen di atas blacu. Kain yang lumayan tebal dan biasanya digunakan untuk bahan tote bag dan kerap dibagikan di seminar dan workshop yang dananya besar. Ukuran gambarnya sebesar 50X150 centimeter.

HEROTISME saya pilih sebagai judul setelah gambar selesai 80%. Artinya, saya tak mengonsepkan dari awal kemana gambar ini akan saya imajinasikan. Saya menuruti imajinasi saya sesuai dengan apa yang yang saya hayati dari kenyataan politik yang berlansung di Aceh setahun lalu. Misalnya bagaimana Irwandi Yusuf sebelum ditangkap KPK seakan-akan menjadi pahlawan baru yang nyaris tanpa cela. Lalu bagaimana pertikaian tak ada kata sudah antara Irwandi dan DPRA soal APBA yang diqanunkan. Dari dua fakta itu, saya mengilustrasikannya menjadi simbol-simbol yang lahir dari bawah sadar saya dan tentunya saya membutuhkan waktu untuk merekonstruksikan dalam bentuk yang ilustratif. Bentuk yang tak nyata sekaligus surealis.

Melalui gambar ini, saya lulus seleksi untuk program residensi seminggu di Yogyakarta yang diadakan oleh taman budaya yogya melalui program Nandur Srawung #5. Di program ini, gambar ini tak ikut serta dipamerkan. Gambar ini hanya sebagai contoh karya visual yang saya buat konsep dan saya uraikan maksud-maksud tanda yang tertera dalam gambar.

Saya tak menyebutnya ini lukisan. Karena saya tak peduli apakah saya melukis atau menggambar. Saya lebih senang bicara konsepnya dibandingkan harus muluk-muluk di kategori dan teknik serta genre.

Bulan lalu, saya kirimkan untuk ikut seleksi pameran yang diadakan oleh galeri nasional dengan tema pameran serambi seni. Karya ini lulus dan ikut dipajang bersama 36 karya lain. Di antaranya ada 6 karya koleksi negara yang dibawa dari Jakarta. Saya tahu, gambar ilustrasi yang dipajang bersama lukisan aneka warna, menjadi amat suram ungkapannya. Apalagi, tanpa saya bingkai. Tapi bagi saya, yang paling penting, orang bisa menikmatinya dan timbul diskusi kecil di depan karya dipajang. Itu sudah cukup berhasil.

Terakhir, karya ini saya jual kepada siapa saja yang berminat. Minat di sini maksudnya benar-benar ingin memiliki dari hati yang dalam. Soal harga, mana pernah mahal karya seni?

Dan penentuan harga dan tawar menawar akan berlansung terbuka di komentar.

Salam

@marxause

Sepuisi Himbauan

Pabila kata-kata pelan-pelan kendur dan tak sanggup mewakilkanku mempuitiskan kampung dan pantai di belakang rumah, aku akan berbaik-baik dengan nafsuku untuk menghasilkan sebuah buku himpunan sajak lengkap yang menuntun orang untuk mengerti bahwa betapa lunglainya kata-kata jika sudah bicara tentang cinta. Mungkin juga sunyi dan rindu. Sebab, di dalam tiga kata itu, ada banyak hal-hal remeh dipenjarakan agar puisi-puisiku gagah.

Jika kata-kata pelan-pelan mulai kendur di kampungku. Aku akan menulis puisi-puisi pendek sarat emosi di Yogyakarta, Denpasar dan Bandung. Jakarta terlalu tak bisa kuharap banyak untuk “cinta sunyi dan rindu”. Sebagai penyair, aku tak punya senjata lain. Satu-satunya jalan menyelamatkan diri dari bingung di negeri orang hanyalah membuat sketsa melalui kata-kata. Selebihnya memotret diri saat di tempat tidur hotel dan gosok gigi.

Pada saat kata-kata kendur di Indonesia, kota terdekat mana yang akan menampung puisiku yang selalu bicara cinta,sunyi dan rindu? Aku yakin tak semua kota secengeng puisi-puisiku.

Mungkin aku harus ke Bireuen. Membantu bupati mengetik banyak himbauan.

Bivak Emperom pada 2010

Kita menyebutnya republik, tanpa presiden dan dewan musyawarah. Hukum-hukum kita ciptakan sambil mencabut rumput. Hukum yang kita sepakati jika memang tak bikin mual, akan kita lestarikan sebagaimana tetangga kita melestarikan hewan buas yang hampir punah. Dan aturan-aturan temporer itu, jika sudah tak layak untuk berlaku, siapa saja antara kita, bebas membantingnya ke tembok pagar.

Akan tetapi Bivak Emperom tetap tak sesepi dahulu, ia bahkan sudah mampu memamerkan lika-liku jalannya sejak pemerintah menancapkan penerang penuh sentuhan estetik. Hingga beberapa kalanya angin mesum meluncur mulus dari ketinggian Glee Geunteng. Adakah ini isyarat paling rahasia dari alam yang memaksa kita untuk tak berlama-lama lagi memeluk guling?. Kita mesti menjawab secepatnya sebelum didahului kokok ayam rumah sebelah. Atau buru-burulah mengelabui perasaan seseorang.

Di sana, siapa saja pernah berupaya menciptakan suasana mirip-mirip puisi?. Bisa dikatakan tidak ada. Sebab bunga-bunga yang kita cabut paksa di pinggir jalan, tumbuh dengan keringatnya sendiri. Meskipun sekali-sekali kita tak sabar ingin melihatnya mekar walau baru kemarin kita tancap di tanah.

kita tak tercipta dari pemikiran filsuf atau kegilaan versi Bernard shaw. Juga tak dibesarkan oleh sikap kritis pendosa-pendosa politik. Tak mengherankan kalau sedikit gagap menjabarkan kekeliruan politisi yang rata-rata “klo prip”. Atau ikut-ikutan latah memaki keadaan yang tak kunjung mengganti pakaian seperti hajat orang banyak.  Bivak Emperom, seperti juga tempat lain. Ia memenuhi kewajibannya sendiri, dengan keberadaan kopi. Kami rutin menjenguknya, sekedar membasuh kepala dengan sanger panas atau kopi encer. Namun, sebab harga-harga sudah tak masuk akal, kian hari jantung kita sudah tak sekuat dulu. Untuk cafein-cafein yang brutal.

Mungkin, sudah waktunya berbicara kesenian selain bermain Pe-Es. Sebab kesenian juga seperti sifat Pe-Es. Membuat kita penasaran. Kesenian yang tidak sekedar untuk dipajang sebagai pemuas nafsu di akhir pekan. Kesenian yang ketika dilemparkan ke tengah-tengah rakyat putus sekolah akan memberi makna dan gairah buat melanjutkan kehidupan.

Mungkin seperti hikayat panjang yang dibacakan dalam event-event tertentu adalah salah satu wujud nyata dari pencapaian itu. Jangan terburu-buru menyebut puisi. Sebab puisi-puisi yang terlanjur kita tulis, mendadak dikembalikan redaktur. Kita juga bingung dengan puisi sendiri, kita mati-matian berupaya membuat orang rebah dalam kalimat, agar secepatnya disebut penyair. Penyair berkalung diksi indah.

Tapi, jangan berusaha mengikuti Rendra atau Afrizal Malna. jangan pergi bersama sitor situmorang untuk bertapa di bukit kata. Enyahkan Sutardji dari pemilahan makna untuk kata-kata kita. Biarkan ia mabuk dengan mantra-mantra individualisnya sendiri. Kelak ia bosan sendiri.

Untuk ukuran kita, kata-kata punya kelebihan sendiri untuk diakrobati saat benak tak stabil benar.

Seperti Asam Lambung

Di wajahnya akan tumbuh jerawat. Jika ia terus saja sibukkan pikir. Maka bercumbulah seperti anjuran seksolog langganan.
Niscaya akan mencerdaskan kelamin. Apalagi pagi-pagi. Walau sebentar dan tak parah, selingkuh itu tetap dikenang sebagai hadiah. Hadiah dari proteksi-proteksi yang longgar. Kau akan disebut pintar sama tetanggamu jika kau mampu mempura-purai birahi. Kelak kau akan menjadi ikan di kolam. Jika kau haus terus menerus.

Jangan tunggu mukanya merah padam. Niatkan sebagai jalan menyelamatkan seseorang agar tak jatuh ke jalan buram. Walau kau tak mendapat pahala besar atas upaya-upaya berlendir ini. Ini karya besar yang patut diapresiasi. Tentang bagaimana menghabiskan waktu dengan perilaku-perilaku menggemaskan.

Kami tahu engkau sering berduaan atas alasan yang dapat dibenarkan. Kami tahu engkau sering menulis lirik-lirik sedih ketika sedang berdua. Matamu tak dapat berbohong bahwa sedihmu berlebihan. Engkau dapat saja mengajaknya tidur siang sembari berdongeng tentang dunia yang sebentar lagi kiamat. Tentang lalat yang tak pernah bosan menebar kuman di meja makan. Segalanya mungkin bagimu. Namamu sudah dikenal. Engkau tinggi besar dan sedikit nafsu makan. Yang jika engkau berjalan, sandalmu suka kau seret-seretkan. Dari matamu orang mengenal bahwa setiap kata-katamu patut diaminkan.

Aku masih percaya bahwa galau itu tanda-tanda serius pada perkembangan kejiwaan. Katakan saja padanya jika kau benar-benar menginginkan sebuah pelukan hangat pagi hari. Atau berpura-pura demam sehingga ia memegang keningmu untuk membuktikan suhu badan sedang naik.

Asmara bukanlah asam lambung. Hanya saja bikin mual kalau terus menerus disegarkan dengan pesan pendek semisal, “Selamat pagi,sayang!”

Orang pintar biasanya jauh lebih jernih mengungkapkan keinginan birahi. Biar pun tak tahan ereksi. Namun, kepintaran macam apa yang akan kau tunjukkan padanya jiakalau engkau tiba-tiba kikuk ketika ia membelakangimu.

Kita kaum berkumis dan tak jarang kelihatan seperti banci. Walau orang bilang kita tak pernah malu-malu memperlihatkan birahi di muka umum. Dan sebagai laki-laki, kita nakal sekaligus seperti bayi kalau sudah bermanja.
Le that haba!

Kata Ketua pada Pengikutnya

menjadi orang menjengkelkan itu mudah

Menjadi orang menjengkelkan harus dimulai semenjak engkau mengenal lingkunganmu. Lalu, engkau dapat berbasa-basi atau beramah tamah jika pada berbagai kesempatan bertemu orang-orang menyenangkan. Jabatlah tangannya kalau memungkinkan. Jangan berlagak alim dengan bersikap protektif terhadap kemulusan kulit tangan. Tangan siapa saja tak dapat kita percaya bersih dari ancaman kuman dan virus penyebar meriang.

Seseorang yang kerap kita mintai pengalaman cara berperikehidupan yang higienis sekali pun, pada kalanya pernah menggunakan telapak tangan secara alamiah untuk keperluan  membersihkan ‘lubang pembuangan’. Seberapa pun mulusnya dia, seberapa ketatnya ia menjaga diri dari hal-hal yang dapat merusak kemulusannya. Jangan percaya bahwa ia terbebas dari kutu kuman.

Kalian harus percaya diri dengan menganggap segala sesuatu pada waktunya memang akan menjadi sesuatu tak berguna. Misalnya, jika hari ini engkau begitu seringnya menyumpahi keadilan hingga menjadi kebiasaan bagimu, suatu hari sumpahmu akan dianggap sampah saja oleh orang sekitar. Jangan marah. Teruslah menyumpah. Misalnya saja keadilan tak jua datang.

Namun, pada kali lain kalian harus menjadi seseorang yang kelihatan menjengkelkan. Mungkin kejengkelan orang dapat kau bangkitkan saat matamu melirik angkuh. Atau saat kau berpura-pura ramah dengan menanyakan kabar tentang binatang peliharaan atau tetangganya yang cerewet. Semuanya akan berguna bagimu kelak. Percayalah, angkuh saja tak cukup meyakinkan untuk mengantarkan engkau ke neraka.

Lihatlah dan coba kau hitung berapa banyak orang ikhlas yang selalu menggembar-gemborkan keikhlasannya di dunia maya. Berapa jumlah keikhlasan larut dalam udara.  Sementara udara saja sudah tidak tepat untuk dikatakan segar.

Bagimu, pintar itu gembar-gembor? aku tidak tahu. Yang kutahu, pintar itu ngopi gratis.

Kita harus memandang remeh terhadap orang-orang seperti ini. Orang yang menyiasati kalimat agar terkesan mantap.

Ketika orang luput untuk mendefinisikan diri, saat itu pula ia menjadi raksasa yang blo-on. Mungkin politikus adalah orang yang selalu berusaha mendefinisikan diri di depan uang (walau kerap gagal). Di depan kepentingan-kepentingan. Namun, si brengsek mana pun harus kita hargai sebagai manusia seutuhnya jika selalu berupaya membenah diri.

Harus!

 

Mukaddimah Pelantikan Gubernur

Selamat untuk masa tugas Gubernur baru yang dilantik hari ini. semoga berbahagia dan murah senyum selalu dalam tugas.

hari ini adalah hari di mana kalian berdua serupa pengantin baru. dielu-elukan, disambut dengan teriakan dan sapaan paling menggetarkan siapa saja orang biasa yang belum pernah mendapat tahta. kalian berdua akan dipeusijuek oleh tetua adat atau ulama.

kami yakin, agenda pertama yang akan kalian lakukan adalah menuju podium dan menyapa para hadirin dengan santunnya. kalian akan memuji Tuhan dan itu wajib atas nama iman. walau Tuhan tidak akan berubah kedudukan di singgasanaNya seandainya kalian luput memujiNya.

lalu, kalian akan memberi penghormatan kepada orang yang duduk di kursi barisan pertama. lalu kalian akan mengucapkan terima kasih dengan sungguh-sungguh bahwa dengan adanya mereka sebagai kaum elit, sipil dan militer dan birokrasi, daerah jadi semakin berwarna.

kemudian, kalian akan mengucapkan ucapan bangga kepada kepala SKPD yang telah melakukan kerja-kerja paling serius selama masa Pemilukada berlansung di mana setiap instansi pemerintah dipimpin oleh birokrat murni yang dipilih oleh Pjs Gubernur.

kalian  pula harus memberi penghormatan luarbiasa kepada ulama karena telah mendoakan dengan iklas sehingga Aceh tetap menarik dan menjadi daerah serambi mekkahnya Indonesia.

sesudahnya, kalian akan menyapa Partai Politik yang mengusung kalian menuju Aceh 1 dan 2. baik itu Parlok atawa Parnas (untuk dua golongan ini, kalian harus memasang mimik serius. kalau bisa, lakukan tanpa tekanan siapa-siapa, karena, dukungan politis itu harus dibayar dengan harga mahal kelak). keberadaan partai politik sejauh ini berguna ketika sedang terjadi khanduri demokrasi. selebihnya tidak. ini menurut pandangan kami. lihatlah, pak gubernur!! mulai besok semua tindakanmu (termasuk yang paling remeh dan pribadi) akan selalu dipandang melalui kacamata politis. engkau salah tempat berdehem pun akan dianggap sebagai tindakan politis dan mempengaruhi dukungan di parlemen.

kekuatan parlemen kita tidak lagi terletak di rasionalitas anggotanya dalam menanggapi persoalan. mereka cenderung menuhankan mekanisme lobi dan voting. aku yakin, seorang politikus yang berumah di parlemen bukan orang sembarangan yang mantan pengangguran. mereka kaya-kaya dan 99% berkacamata. tahu kenapa? kacamata adalah manifestasi intelektual,simbol kelas sosial yang ‘terlalu kenyang sekolahan’. politikus di Parlemen kita bukan anak kemaren sore yang dengan mudah diiming-imingi permen dan es krim murahan. mereka memegang legalitas kuat untuk mendongkel atau mencabut mandat kalian,dengan catatan kalian mesti turut kehendak mereka untuk bersatu suara. kalian dibuat tak nyenyak tidur kalau kalian membangkang. pelajari kembali kisah-kisah  orang-orang terdahulu sebelum kalian.

ah sudahlah, kalian harus melanjutkan kata penghormatan untuk awak media massa yang telah menyebarluaskan informasi hingga ke kaki gunung Leuser. bahwa di Banda Aceh sejarah baru telah dimulai: Aceh mempunyai nakhoda baru yang dipilih rakyat untuk mengorbankan diri. media massa telah bekerja sebagai salah satu elemen demokrasi. maka kalian harus memberi apresiasi tulus atas kerja-kerja begini. kalau tidak, kalian juga bisa dijungkirbalikkan oleh selembar koran di warung kopi. kerja membentuk opini di kalangan akar rumput tidaklah sulit bagi awak media. mereka bisa saja membalikkan fakta begini di muka koran mereka: ‘sebatang kelapa tiba-tiba menjadi pinang’

maka, berikan penghormatan buat media massa!! mereka berpengaruh dalam iklim politik kita walau mereka tidak bisa tidur nyenyak dalam gedung parlemen saat rapat paripurna anggaran. mereka kuli tinta, tugasnya mengumpulkan data. beda dengan politikus. mereka melempar wacana, lalu mereka tidur pulas.

jika telah memberi penghormatan begitu rupa buat awak media. silakan lanjutkan:

ucapkan keterharuan kalian buat panitia acara. betapa mereka telah berpeluh basah untuk perhelatan monumental ini. mereka menjadi tuan rumah yang baik dengan menyiapkan segalanya. kenanglah jasa mereka selamanya.

lalu konsentrasi kembali untuk menyusun kalimat singkat untuk sebuah ucapan terimakasih tak terhingga bagi semua aparat keamanan. atas kesungguhan mereka menetralisasi pusat pelantikan sampai sejauh radius satu kilo meternya. ini penting untuk menampakkan pada orang luar bahwa negeri kita sebenarnya tidak ada ribut-ribut atas alasan kedengkian antar kontestan pemilukada. jangan lupakan mereka!! kalau perlu, jika tak ada keributan (biasanya keributan di perhelatan begini terjadi saat pembagian konsumsi: berebutan), biarkan mereka berteduh di bawah pepohonan. mengingat suasana siang di kota Banda Aceh panasnya luarbiasa. kasihan mereka.

segera ucapkan terimakasih kepada Timses yang telah berkenan memberi tenaga dan pikiran. keberadaan mereka penting dalam masa-masa kampanye. mereka adalah tulang punggung sebuah kampanye. keberadaan mereka lebih penting dari keberadaan kuwah pliek pada jamuan makan siang. atau setidaknya sama pentingnya dengan keberadaan sebatang rokok ba’da makan. jangan lupakan mereka.

setelah tetek bengek itu berlansung untuk jangka waktu satu setengah jam. dan orang-orang yang diberi penghormatan menganggukkan kepala sekedarnya tanda mereka beritikad baik atas tugas-tugas masing-masing. maka, tunggulah orang-orang riuh bertepuk tangan. nikmati sensasi langka ini untuk beberapa kala. sensasi ini tak akan sama rasanya dengan mendapat sentuhan-sentuhan kata-kata cinta masa remaja. boleh jadi lebih atau sebaliknya. dan itu terlalu tidak penting untuk dikomparasikan.

mengingat waktu sangat terbatas diberikan, jangan terlalu lama menikmati sensasi. dan ingat! jangan sekali-kali memberi wejangan di tengah para undangan, kasihan mereka kegerahan di bawah tenda di halaman. kalau perlu sirami mereka dengan guyonan ringan yang cukup mengendurkan saraf yang tegang.

segera aturkan kembali kata-kata penuh kesantunan bagi yang belum mendapat penghormatan maupun ucapan terimakasih terdalam.
kira-kira siapa,ya?

 

Gubernur dan Kebutuhannya

Kami tahu bahwa jalan seorang gubernur tidak semulus jalan seorang politikus level kampung untuk sampai ke pucuk kekuasaan. Kuasa atas engkau sungguh besar. Engkau boleh saja berlaku sesuka hati; mendamprat bawahan atau bahkan menempelengnya jika lengah terhadap kepentingan kami. Ini bukan saja dilatari adagium ‘pemerintah adalah pelayan pemerintah’. Ini soal cita-cita sebuah bangsa merdeka. Sebuah bangsa yang penuh ceceran darah di sejumlah persinggahan masa dan tonggak sejarah. Bangsa yang dalam perjalanannya banyak mengalami hal-hal di luar dugaan. Inilah negeri yang dicintai dan paling menggemaskan dalam buku sejarah di sekolah-sekolah.

Apa pun alasan anda menjadi seorang gubernur akan tetap kami mengerti dengan modal pendidikan politik minim. Ini berkaitan erat dengan sejarah dimana kehidupan kita selalu dijauhkan dari hal-hal berbau politis. Dari jamannya Van Heutsz hingga era Soeharto. Semua keedanan ini harap sedikit dimaklumi dengan segala keiklasan. Bangsa kita apolitis dan kalau bisa menghindari ini sedapat mungkin. Karena jika segala tindakan mereka berbau politis bisa dipastikan akan dicap cari gara-gara. Tentu ini amat menakutkan.

Namun, dengan sejarah pemberontakan yang sampai ke tangan kita hari ini, kita haruslah bangga bahwa bangsa kita memang apolitis umumnya. Namun, sekali saja melakukan tindakan politis, maka dapat mengguncang kantor-kantor pemerintah di jakarta. Tapi, itu tidak tepat diulang-ulang di zaman damai macam sekarang.

Kami tahu kalau segala urusan rakyat tidak selesai tanpa campur tangan kaum birokrat. Mustahil rasanya kalau sekolah yang roboh dibangun kembali tanpa usul dana ini dana itu oleh pihak pemerintah. Absurd juga kalau seandainya tanpa pemerintah, mana sanggup rakyat menambal lubang di jalan kampung. Karena pemerintah, maka usaha-usaha perbaikan bisa disegerakan.

Pemerintah yang waras wajib punya tangan untuk menjangkau segala hal. Dengan catatan tidak menjadi pengganggu kenyamanan rakyatnya untuk berserikat dalam organ-organ bentukan sipil. Tidak menjadi pembungkam atas ekspresi rakyat di mimbar-mimbar bebas. Pemerintah yang bertindak dinamis dan layak dijadikan tempat untuk berlindung dari segala fenomena menakutkan. Semacam fenomena ‘devide et impera’ saat pra pilkada  beberapa waktu lalu.

Kami senang ketika engkau menolak dibelikan modil dinas baru. Karena alasan pemborosan anggaran. Ini membanggakan. Tapi, engkau bisa saja tak butuh mobil baru. Namun, ada seribu bawahanmu menginginkannya. Dengan alasan menggunankan mobil lama jauh lebih boros bea rusaknya. Sehingga dengan alasan sesepele itu anggaran belanja bocor lagi untuk hal-hal kekanak-kanakan itu.

Kadang, kita malu dengan anak nakal yang memaksa ibunya untuk membelikan mobil-mobilan baru di pasar bak uroe peukan.  Bahkan kita lebih malu dengan tindakan merengek seorang pejabat yang ngambek  karena tak dibelikan mobil baru. Ini fenomena klasik yang tak akan pernah dihilangkan dari psikologi pejabat baru yang mengalami euphoria tiba-tiba serba disedia.

That palo!