Pada Selangkangan Pagi

Tak perlu menunggu saatnya menjadi ganteng untuk sekedar berhura-hura dengan istri kedua dan ketiga. Bermodal muka pas-pasan dan sedikit wajah datar seolah tanpa dosa,

Semua berjalan semestinya. Air tetap mengalir di sungai dengan atau tanpa dinikmati. ayam tetap berkokok saat fajar mulai samar-samar datang. Pagi tetap datang setelah bertarung melawan gelap. Ombak-ombak di pantai tetap bergemuruh mengayun-ayunkan boat nelayan di selat malaka. Gampong Jawa masih reuneum saat satu dua boat kecil melaut subuh ini.

Di selangkangan pagi, tak ada gairah yang bisa didiamkan. Tak ubahnya filsafat yang dinalarkan sungguh-sungguh dan bikin blo-on orang-orang yang telat bangun.

Penyair Sepertiku

“Jadilah tikus nakal di hati siapa saja yang kau anggap dungu.”

Zaman yang gemuk macam sekarang, penyair sepertiku otomatis menjadi juru bicara kebenaran yang mengkhotbahi orang pacaran di pinggir pantai. Itu pun kalau lagi JJS di akhir pekan. Kalau tidak, aku akan menulis puisi di kamar sambil dengar-dengar mp3 dan nonton ceramah Abdul Somad. Itu pun kalau jaringan kuat, berlimpah kuota.

Dahulu, sebelum memutuskan menjadi penyair, daku tak berkumis. Kupelihara janggut setumpuk di dagu sebagai cara menghemat pencukur. Kadang ketika berkaca kumerasa mirip-mirip ustaz televisi. Menjadi penyair tanpa kumis, kata temanku yang penyair, terlihat kurang nyentrik dan tak merdeka.

“Biar saja tebal dan menonjol yang penting rutin dirapikan tak mengapa.” Katanya.

Ia menekankan, kumis adalah simbol ketakseriusan. Kumis menjadi sarana pembeda antara puisi yang gemulai dan kasar.

Lalu, karena puisi adalah kemerdekaan pribadi, maka tak semua penyair berkumis mampu menulisnya. Bahkan diriku sendiri. Sehingga aku terdorong untuk menulis sajak paling pribadi dan paling hati-hati.

Sajak-sajak-ku bercerita tentang cinta, dewa-dewa, tahta dan budi pekerti raja yang bijaksana. Pernah kucoba menulis puisi naratif dengan bahasa sehari-hari, malah jadinya seperti ratapan tanpa isak. Senggama tanpa orgasme. Melambung tanpa melompat. Sentuhan tanpa ereksi.
Bahkan, hasil akhirnya selintas estetik
namun pada dasarnya, Taik

 

Yang Ringan-Ringan dari Asmara

 

Membanding-bandingkan tatapanmu dengan mata kucing biasanya membuatku lekas ngantuk. Membayangkan engkau kelak beranak pinak tanpa kasih sayang semestinya, serta merta membuatku menghindari membuat pernyataan resmi tentang perasaan-perasaan ganjil. Ini puisi terakhir tentang kasus-kasus asmara yang kadangkala terlalu berlebihan ditanggapi. kau tahu? orang semakin malas memperdebatkan sesuatu yang sifatnya relatif. Duduk di warung kopi, berdiskusi, curhat dan lalu patah hati. Atau mencampuri urusan orang lain dengan kehendak menggurui. Masalah-masalah pribadi dibongkar tanpa ampun. Dan warung kopi menjadi semacam pasar yang menjual keluhan-keluhan.

Kita dibesarkan dalam budaya lawak yang pada dasarnya teramat sulit buat ditertawakan. Televisi, papan rekalame, selebaran, brosur-brosur telah memenuhi kepalaku dan ruang hatimu.

Lalu di sepanjang tutue pante pirak saat iklan-iklan papan reklame mengencingi kepala kita dari atas, aku kehilangan kata cinta. Kita memungut asmara yang terkontaminasi polusi. Urbanisme menjadikan ruang di kepala kita tak muat menempatkan asmara. Kita hanya bisa memalsukannya atas nama dorongan seksual. Selebihnya, berpura-pura alim ketika musik-musik erotis diperdengarkan di rumah-rumah bordil.

Maka, pulanglah setelah melampiaskan libido. dan bawakan aku cinta yang ringan-ringan. dan mudah ditertawakan di saat waktu senggang.

Yang terlantar di Jakarta

Demi gedung-gedung yang anggun, aku selimuti diri dengan kagum. Mengantar kekasihku melewati gang-gang sempit. Melingkarkan lengan di pinggangnya. Asmara menjadi ranum seketika. Jakarta redup dibuatnya.

Kunyalakan sebatang rokok sambil menerangi jalan-jalan sepanjang kenangan. Yang mengepul malah bayang-bayang kekasih lama yang menerjunkan imaji ke jurang birahi. Sementara, kegagalan memeluknya terus saja menyambutku setiap kali hendak tidur.

Ada yang mencekikku setiap kali aku bangunkan imaji tentang kekasih baruku. Matanya biru dan tajam, dipaksanya aku minum secawan kenangan sambil mendongeng tentang kerajaan di bulan.

Di antara gaduh yang jarang bisa kuterjemahkan dengan kepala dingin, jarum jam berjejal dalam kepalaku tak ubahnya jalan macet. Waktu bagai siput, menelantarkanku di jendela kamar. Menghirup udara kotor tepi jalan.

Jakarta memang bikin insomnia!

Sebait Calon Bupati

Kata timsesnya, ia penyembah Tuhan tipe militan. Bayangkan saja, ketika datang tamu formal, ia salat dan berlama-lama dalam kamar. Amalan personal ia kejar sungguh-sungguh demi surga sendirian. Ia pendiam dan bicara pada jam-jam tertentu. Itu pun kalau sedang mangat teumon bu. Ia selalu menekankan pentingnya menyembah Tuhan pada mantan rakyatnya sembari elitnya, menyembah jabatan dan kong kalikong berjama’ah.

 

Akhir Pekan Walikota

 

Malam telah jula. Riak-riaknya menari-nari di Kuala Cangkoi mengirimkan aroma garam ke tengah kota. Lampu-lampu di jalan Iskandar Muda teupet-pet bleut kekurangan suplai PLN. Penjual bakso bakar mulai tertunduk ngantuk dan ingin sekali pulang memeluk istri. Sepasang muda-mudi berpelukan di sepeda motor akrab benar. Seperti rindu yang ditahan sekian lama dan tuntas semalam saja.

Malam Jum’at di depan kuburan massal Ulee Lheue, angin menurunkan kecepatan. Daun-daun asam luruh dengan komat-kamit doa yang tak kumengerti apa. Seorang penyair macam kau pasti sok tau lantunan doa dedaunan sepanjang jalan itu. Aku tak paham bagaimana Banda Aceh meukuwien lam sagoe malam jula hingga besoknya, walikota teulat jaga. Masuk kantor dengan pakaian rapi, tapi tak sempat mandi. Seorang pegawai kehumasan menuliskan sebait kata sambutan yang isinya begini:

“Akses air bersih bagi warga kota adalah amanah undang-undang. Yang macet sekali-kali, mohon dimaklumi. Seperti puisi, penyair saja bisa macet imajinasi. Masa’ kita tidak? Jadi, kalau sedang macet, tak perlu mandi. Kecuali macet gaji. Itu sudah resiko tenaga bhakti. Jadi, mohon dimaklumi”

Malam terus meu-iseuk,  Bacut-bacut sampai ke pagi. Walikota sedang senam pagi.

Dari Celah ke Celah

Tahukah kamu 

Kita hanya pulang pergi dari lubang ke lubang

Memikul kenangan
Selebihnya mencari celah
Untuk mengirim memorial ke tempat teraman

Tak ada waktu menghela nafas.
Kamu hanya butuh desah
Sambil melepas udara pelan-pelan dari hidung
Saat meletakkan kepala di bantal

Mimpi mengkristal lalu dimuseumkan
Orang-orang histeris menyaksikan mimpi dipamer

Kamu tidur
Biar orang mimpikan kita

Young Artist

Luthfi Al-Faruqi merupakan siswa SD IT di Meureudu. Jika saya sedang di Meureudu dan membawa cat sisa dari Banda Aceh, saya sering menyuruhnya ngecat. Terserah apa yang dia suka. Dari tembok sampai jambo atau mobil-mobilannya.

Saya percaya dia tidak terlalu hobi menggambar. Kecuali kalau ada anak tetangga mengajaknya. Luthfi adalah anak pertama adik saya. Tidak berbeda dengan anak lain, dia suka bercerita apa dia ingin lukis. Biasanya ia akan menceritakan ayah, ibu, adiknya dan pacarnya di sekolah. Anak dalam usia dia sepertinya berlimpah sekali imajinasi.

Bersama seorang teman sepermainannya, ia ketika melihat saya membuat gambar di sketch book, minta juga disediakan kertas dan pena. Bersama temannya itu, ia menggambar rute pergi dari rumah ke sekolah. Seperti anak umumnya, di rumah mereka menggambar ayah, ibu, adik-abang dan pohon di rumah.

Di sepanjang jalan ke sekolah, mereka menggambarkan deretan pohon rindang. Walau, di kota kecamatan Meureudu, tak ada satu pun pohon di depan toko. Meureudu panasnya bukan main.

Gambar mereka berdua sangat naratif. Penuh cerita dan sangat panjang jika dituliskan.

Liburan lebaran kali ini, kami sering menggambar bersama. Bahkan, nanti di postingan selanjutnya, saya akan menuliskan Luthfi melukis mural.

Mumang

Di tengah nyenyaknya parlemen Aceh dan mabuk eksekutif, siang-malam orang-orang membereskan berkas pelanggaran. Capek-capek perang di masa lalu, seperempatnya hanya menghasilkan selusin lebih politikus muda energik yang rindu Aceh damai, namun hobi umbar kebencian. Di media sosial.

Pemilukada adalah anugerah yang disyukuri dengan perebutan dalam bentuk mobilisasi massa, politik transaksi dan distribusi macam bantuan.

Semua terlihat mulia saat dikemas dengan lapik agama dan sikap humanis plus kultural. Yang tergoda, pasti jadi timses.

Politik praktis sungguh lentur. Mengangguk, dibayar. Jika tak, bukan masalah besar.

Meureudu. 2018