Akhir Pekan Walikota

 

Malam telah jula. Riak-riaknya menari-nari di Kuala Cangkoi mengirimkan aroma garam ke tengah kota. Lampu-lampu di jalan Iskandar Muda teupet-pet bleut kekurangan suplai PLN. Penjual bakso bakar mulai tertunduk ngantuk dan ingin sekali pulang memeluk istri. Sepasang muda-mudi berpelukan di sepeda motor akrab benar. Seperti rindu yang ditahan sekian lama dan tuntas semalam saja.

Malam Jum’at di depan kuburan massal Ulee Lheue, angin menurunkan kecepatan. Daun-daun asam luruh dengan komat-kamit doa yang tak kumengerti apa. Seorang penyair macam kau pasti sok tau lantunan doa dedaunan sepanjang jalan itu. Aku tak paham bagaimana Banda Aceh meukuwien lam sagoe malam jula hingga besoknya, walikota teulat jaga. Masuk kantor dengan pakaian rapi, tapi tak sempat mandi. Seorang pegawai kehumasan menuliskan sebait kata sambutan yang isinya begini:

“Akses air bersih bagi warga kota adalah amanah undang-undang. Yang macet sekali-kali, mohon dimaklumi. Seperti puisi, penyair saja bisa macet imajinasi. Masa’ kita tidak? Jadi, kalau sedang macet, tak perlu mandi. Kecuali macet gaji. Itu sudah resiko tenaga bhakti. Jadi, mohon dimaklumi”

Malam terus meu-iseukBacut-bacut sampai ke pagi. Walikota sedang senam pagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *