Yang terlantar di Jakarta

Demi gedung-gedung yang anggun, aku selimuti diri dengan kagum. Mengantar kekasihku melewati gang-gang sempit. Melingkarkan lengan di pinggangnya. Asmara menjadi ranum seketika. Jakarta redup dibuatnya.

Kunyalakan sebatang rokok sambil menerangi jalan-jalan sepanjang kenangan. Yang mengepul malah bayang-bayang kekasih lama yang menerjunkan imaji ke jurang birahi. Sementara, kegagalan memeluknya terus saja menyambutku setiap kali hendak tidur.

Ada yang mencekikku setiap kali aku bangunkan imaji tentang kekasih baruku. Matanya biru dan tajam, dipaksanya aku minum secawan kenangan sambil mendongeng tentang kerajaan di bulan.

Di antara gaduh yang jarang bisa kuterjemahkan dengan kepala dingin, jarum jam berjejal dalam kepalaku tak ubahnya jalan macet. Waktu bagai siput, menelantarkanku di jendela kamar. Menghirup udara kotor tepi jalan.

Jakarta memang bikin insomnia!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *