Penyair Sepertiku

“Jadilah tikus nakal di hati siapa saja yang kau anggap dungu.”

Zaman yang gemuk macam sekarang, penyair sepertiku otomatis menjadi juru bicara kebenaran yang mengkhotbahi orang pacaran di pinggir pantai. Itu pun kalau lagi JJS di akhir pekan. Kalau tidak, aku akan menulis puisi di kamar sambil dengar-dengar mp3 dan nonton ceramah Abdul Somad. Itu pun kalau jaringan kuat, berlimpah kuota.

Dahulu, sebelum memutuskan menjadi penyair, daku tak berkumis. Kupelihara janggut setumpuk di dagu sebagai cara menghemat pencukur. Kadang ketika berkaca kumerasa mirip-mirip ustaz televisi. Menjadi penyair tanpa kumis, kata temanku yang penyair, terlihat kurang nyentrik dan tak merdeka.

“Biar saja tebal dan menonjol yang penting rutin dirapikan tak mengapa.” Katanya.

Ia menekankan, kumis adalah simbol ketakseriusan. Kumis menjadi sarana pembeda antara puisi yang gemulai dan kasar.

Lalu, karena puisi adalah kemerdekaan pribadi, maka tak semua penyair berkumis mampu menulisnya. Bahkan diriku sendiri. Sehingga aku terdorong untuk menulis sajak paling pribadi dan paling hati-hati.

Sajak-sajak-ku bercerita tentang cinta, dewa-dewa, tahta dan budi pekerti raja yang bijaksana. Pernah kucoba menulis puisi naratif dengan bahasa sehari-hari, malah jadinya seperti ratapan tanpa isak. Senggama tanpa orgasme. Melambung tanpa melompat. Sentuhan tanpa ereksi.
Bahkan, hasil akhirnya selintas estetik
namun pada dasarnya, Taik

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *