Sekolah, Gubernur, dan Kata Sambutannya

Di sekolah, debu tetap menciptakan kotor. kertas-kertas bekas tetap menempati tong sampah sampai berhari-hari. Dalam kelas, murid-murid malas tetap menginginkan sekolah diliburkan saja karena sama membosankan dengan memancing ikan. Sementara guru-guru dengan bijak mengantri mendapatkan upah dibayarkan. Selebihnya, sekolah tetap mempunyai daya tarik tersendiri karena mempunyai kantin tempat menghabiskan uang.

Kita tak pernah bertanya. Kita tak pernah dengan cerewet meminta seorang kepala sekolah berbagi hikmah tentang betapa rumitnya mengatur peruntukan uang untuk kepentingan pembelajaran. Dan tetap sabar menunggu pertanggungjawaban tertulis di mading sekolah setiap akhir pekan. Sehingga uang menjadi liar, terbang ke sana kemari tak terkendali. Dan kepala sekolah semakin tertekan karena tak ada tempat berbagi, soal betapa sulit mengendalikan kepemimpinan. Mirip-mirip kerja seorang gubernur sipil yang memimpin rakyat di barak serdadu.

Dalam sebuah pagi dalam upacara bendera, seorang gubernur berkata, “kepemimpinan itu hidayah dan kemahapemurahan Tuhan. Tuhan yang di langit sana memelototkan pandangan pada setiap insan. Maka, mana mungkin kita akan mengkhianati Tuhan. karena dia tak pernah ngantuk.” sambil menyeka peluh di jidat yang tak begitu lebar. Diusap-usap kumisnya yang tebal. Jam berputar melambat seperti siput yang linglung. Angin pagi terasa jauh lebih perih dari puisi Sapardi.

Iya, benar. Kepala pemerintahan benar. Dan kita pun mengaminkan doa-doa di pagi senin setelah bendera dikibarkan. Kita tahu doa pada acara seremoni dan rutin begini sama berharganya dengan kehadiran minuman pada jamuan makan malam yang pedas-pedas. Dan kita hadir tanpa diundang.

Sekolah tak pernah melarang kita untuk berekspresi. Di buka ruang lebar selebar-lebarnya. Kita dilindungi undang-undang dan kitab-kitab hukum yang tebal. Namun, jangan memaki. Tapi, tulislah sesuatu yang menyakitkan dalam diari-diari pribadi. Agar moralitas tetap tejaga. Perbanyak beristighfar jika mendengar sesuatu yang sedikit di luar nalar. Jika mendengar berita semisal terungkapnya selingkuh resmi dan berkait dengan urusan kedinasan. Jangan diam menanggapi setiap keanehan. Kita dicap tak berselera dan sedikit kekurangan semangat hidup.

Berita-berita tetap dihangatkan pagi-pagi dengan tingkah reporter janggal. Walau tanpa sarapan sekali pun, kita dapat dengan mudah membaca apa yang belum dan telah terjadi di sana. Walau kita sadar bukan paranormal.

@marxause

Hari-hari di awal tahun tak ubahnya segerombolan maling yang membawa lari barang-barang kepunyaan. Ingatan-ingatan lama dirampas dengan brutal dari pikiran. Kejadian-kejadian baru tanpa ampun memenuhi otak berkapasitas terbatas. Kejadian-kejadian itu menyibukkan kita untuk berjam-jam membereskan setiap hal. Dalam jam dinas kita tak butuh seseorang datang menghibur. Kalau tak dapat menghibur diri sendiri, gunakan menit-menit santaimu dengan berhayal bila kelak banyak uang, kita ingin memiliki sepetak kebun di bulan. ini serius.

Sekolah bukan gelanggang politik. Hanya satu bendera yang boleh bersenda gurau dengan angin setiap hari. Di sana, apa pun yang berbentuk politis-kaos kaki sekali pun- tak dimaklumkan untuk beranak pinak. Sekolah diperuntukkan buat  orang-orang yang semenjak kecil bercita-cita berdamai dengan masa depan. Apakah kita sudah lupa? sekolah tercipta bukan karena kita bodoh. Bukan karena kita takut jika tak sekolah akan repot berkomunikasi dengan tetangga kiri kanan. Bukan!. Dan tak mungkin. Oh iya, kita juga tak pernah takut jika  tanpa sekolah, maka tak ada yang dapat diharapkan pada seseorang untuk kita angkat sebagai pemimpin kita. Karena lembaga pemerintahan kita dari dulu sekali, tak pernah sekali pun kita dengar direbut paksa orang-orang dungu, paling-paling menjadi tempat berkumpulnya sekawanan keledai. Itu pun cuma fiksi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *