Gubernur dan Kebutuhannya

Kami tahu bahwa jalan seorang gubernur tidak semulus jalan seorang politikus level kampung untuk sampai ke pucuk kekuasaan. Kuasa atas engkau sungguh besar. Engkau boleh saja berlaku sesuka hati; mendamprat bawahan atau bahkan menempelengnya jika lengah terhadap kepentingan kami. Ini bukan saja dilatari adagium ‘pemerintah adalah pelayan pemerintah’. Ini soal cita-cita sebuah bangsa merdeka. Sebuah bangsa yang penuh ceceran darah di sejumlah persinggahan masa dan tonggak sejarah. Bangsa yang dalam perjalanannya banyak mengalami hal-hal di luar dugaan. Inilah negeri yang dicintai dan paling menggemaskan dalam buku sejarah di sekolah-sekolah.

Apa pun alasan anda menjadi seorang gubernur akan tetap kami mengerti dengan modal pendidikan politik minim. Ini berkaitan erat dengan sejarah dimana kehidupan kita selalu dijauhkan dari hal-hal berbau politis. Dari jamannya Van Heutsz hingga era Soeharto. Semua keedanan ini harap sedikit dimaklumi dengan segala keiklasan. Bangsa kita apolitis dan kalau bisa menghindari ini sedapat mungkin. Karena jika segala tindakan mereka berbau politis bisa dipastikan akan dicap cari gara-gara. Tentu ini amat menakutkan.

Namun, dengan sejarah pemberontakan yang sampai ke tangan kita hari ini, kita haruslah bangga bahwa bangsa kita memang apolitis umumnya. Namun, sekali saja melakukan tindakan politis, maka dapat mengguncang kantor-kantor pemerintah di jakarta. Tapi, itu tidak tepat diulang-ulang di zaman damai macam sekarang.

Kami tahu kalau segala urusan rakyat tidak selesai tanpa campur tangan kaum birokrat. Mustahil rasanya kalau sekolah yang roboh dibangun kembali tanpa usul dana ini dana itu oleh pihak pemerintah. Absurd juga kalau seandainya tanpa pemerintah, mana sanggup rakyat menambal lubang di jalan kampung. Karena pemerintah, maka usaha-usaha perbaikan bisa disegerakan.

Pemerintah yang waras wajib punya tangan untuk menjangkau segala hal. Dengan catatan tidak menjadi pengganggu kenyamanan rakyatnya untuk berserikat dalam organ-organ bentukan sipil. Tidak menjadi pembungkam atas ekspresi rakyat di mimbar-mimbar bebas. Pemerintah yang bertindak dinamis dan layak dijadikan tempat untuk berlindung dari segala fenomena menakutkan. Semacam fenomena ‘devide et impera’ saat pra pilkada¬† beberapa waktu lalu.

Kami senang ketika engkau menolak dibelikan modil dinas baru. Karena alasan pemborosan anggaran. Ini membanggakan. Tapi, engkau bisa saja tak butuh mobil baru. Namun, ada seribu bawahanmu menginginkannya. Dengan alasan menggunankan mobil lama jauh lebih boros bea rusaknya. Sehingga dengan alasan sesepele itu anggaran belanja bocor lagi untuk hal-hal kekanak-kanakan itu.

Kadang, kita malu dengan anak nakal yang memaksa ibunya untuk membelikan mobil-mobilan baru di pasar bak uroe peukan.  Bahkan kita lebih malu dengan tindakan merengek seorang pejabat yang ngambek  karena tak dibelikan mobil baru. Ini fenomena klasik yang tak akan pernah dihilangkan dari psikologi pejabat baru yang mengalami euphoria tiba-tiba serba disedia.

That palo!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *