Sepuisi Himbauan

Pabila kata-kata pelan-pelan kendur dan tak sanggup mewakilkanku mempuitiskan kampung dan pantai di belakang rumah, aku akan berbaik-baik dengan nafsuku untuk menghasilkan sebuah buku himpunan sajak lengkap yang menuntun orang untuk mengerti bahwa betapa lunglainya kata-kata jika sudah bicara tentang cinta. Mungkin juga sunyi dan rindu. Sebab, di dalam tiga kata itu, ada banyak hal-hal remeh dipenjarakan agar puisi-puisiku gagah.

Jika kata-kata pelan-pelan mulai kendur di kampungku. Aku akan menulis puisi-puisi pendek sarat emosi di Yogyakarta, Denpasar dan Bandung. Jakarta terlalu tak bisa kuharap banyak untuk “cinta sunyi dan rindu”. Sebagai penyair, aku tak punya senjata lain. Satu-satunya jalan menyelamatkan diri dari bingung di negeri orang hanyalah membuat sketsa melalui kata-kata. Selebihnya memotret diri saat di tempat tidur hotel dan gosok gigi.

Pada saat kata-kata kendur di Indonesia, kota terdekat mana yang akan menampung puisiku yang selalu bicara cinta,sunyi dan rindu? Aku yakin tak semua kota secengeng puisi-puisiku.

Mungkin aku harus ke Bireuen. Membantu bupati mengetik banyak himbauan.