Saleem Iklim

Aku buka-buka yutub mencari lagu Saleem Iklim. Itu terjadi karena berita meninggalnya beliau meramaikan di lini masa fesbuk aku. Keberadaan Saleem di yutub didominasi oleh vlog atau wawancara khusus yang dilakukan jurnalis dan stasiun radio. Iklim sudah berubah secara fisik. Jenggotnya memutih. Kurus sekali dengan tulang pipi meninjol. Gaya bicaranya yang terbuka dan gak tahan-tahan, sangat seniman dan bahkan terkesan angkuh.

Saleem Iklim masih menyimpan kekayaan masa muda dan jayanya dan juga kurasa akan ia bawa pergi bersamanya; vokal yang khas. Serak dan ch’o ujong. Suara yang masih mememori dalam setiap generasi yang melewati masa remaja 80-90an. Meskipun Malaysia produsen musik mendayu-dayu khas melayu, Iklim dan generasi musisi zamannya mampu memacakkan keberadaannya di Indonesia.

Saleem Iklim telah berjasa banyak mendampingi remaja 90-an menghayati hidup dan kehidupan asmara mereka dalam kategori cinta monyet. Saleem Iklim mungin bukan satu-satunya yang bekerja keras mendefinisi, menarasikan dan menjabarkan apa itu cinta, penolakan, kehilangan dan kesendirian. Tapi ia adalah satu-satunya yang mampu menyentuh ruang perasaan remaja 90-an mengenali diri saat jatuh dan putus cinta.  Lagu-lagunya memenuhi ruang khayal generasi 90-an yang terkulai karena asmara. Generasi itu tiduran di kamar dengan cover album di tangan menyimak bait-bait lirik untuk mereka hapalkan.

Aku tak bisa menuliskan banyak apa yang kurasakan tentang lagu-lagu beliau. Aku tersedot terlalu dalam masuk ke lirik dan suara parau beliau yang membuat aku tak bisa berpikir jauh. Aku hanya ingat tape recorder lumayan baik milik @rezasofyan dulu tempat aku mendengar lagu Saleem.

Dulu, sekitar tahun 1995, saat aku SMP, aku terkesan sekali dengan lagu-lagu Iklim. Terasa pas benar dengan jiwaku yang remaja dan labil. Aku tidak tahu apakah aku sedang jatuh atau putus cinta? Aku tak ingat lagi. Kalau sudah begitu, Saleem adalah pencipta ruang teduh dan senyap, tempat aku dan ribuan remaja lainnya mengistirahatkan lelah jiwa. Itu mungkin saja terjadi.

Pada saat berita ia meninggal tersebar, media Indonesia menuliskan, Saleem penyanyi suci dalam debu meninggal. Rasanya, Saleem hanya terkenal dengan lagu itu. Padahal ada ratusan tembang yang terkenal di selat Malaka ini yang dinyanyikannya baik dalam grup Iklim maupun solo. Namun, media mau enak sendiri dan paling sering melakukan penyederhanaan. boh ku idum!

Lagu berjudul Si karut marut misalnya. Coba perhatikan penggalan lirik berikut:

hairan si Karut. Cuba memulih. Sedangkan diri sendiri menahan sakit.”

Lagu ini cukup sopan menyindir politisi pemula maupun mapan. Calon legislator yang mendekati pemilu berlomba-lomba memulihkan ‘penyakit’. Tapi, mereka sendiri sedang mengidap sakit bukan hanya fisik. Namun sudah menyerang kejiwaan.

Saleem mungkin agung di mata si jatuh dan putus cinta. Di telingaku, ia adalah suara parau yang menyergap perasaan.

Sebuah Proyek Mengajak Lupa

Judul gambar ini saya pilih berdasarkan hasil akhir dari konstruksi visual yang berhasil saya dirikan. Objek utama dari gambar ini adalah mesin giling yang dikendarai oleh figur jenderal di atas tanah berlumpur. Figur jenderal yang sedang melakukan proyek meratakan segala artefak kekerasan yang saya simbolkan dengan kuburan, adalah bentuk penghilangan bukti untuk lari dari tanggung jawab pengadilan dengan meratakan dengan tanah semua fakta. Bahwa kasus pelanggaran HAM hanya bisa diselesaikan dengan bentuk permintaan maaf, adalah kekeliruan elit bernegara. Korban kekerasan di masa lalu masih setia menunggu keadilan dalam sabar. Dalam hancurnya perasaan hingga air mata mereka membentuk sungai kesedihan yang menghanyutkan banyak sekali kesedihan kepada kita.
Gambar ini adalah bentuk ilustrasi yang merangkum semua jejak kekerasan di masa lalu. Kekerasan yang ditinggal di Aceh tanpa pernah diungkap dengan terbuka. Kasus-kadus pelanggaran HAM di Aceh telah disuarakan berkali-kali. Namun suaranya samar-samar menghilang di tengah gempita kampanye dan peristiwa politik elektoral yang saban menit menggoda kita untuk ikut terlibat mengomentari drama dan intrik-intrik timses. Terutama di media sosial.
Pemerintah Aceh yang kita harapkan sebagai tameng pelindung rakyat Aceh, jangankan menyuarakan suara rakyat ke pemerintah pusat, melindungi diri dari tekanan Jakarta saja tidak sanggup. Brat mumang awak nyan!
Akhirnya, kita hanya mampu menyimpan arsip itu dalam benak masing-masing dan menyuarakannya secara parau dan bahkan sudah tak terkatakan lagi. Suara rakyat nyaris bungkam dan melupa.
Bit-bit meuilanya!

Banda Aceh dalam Magrib Ulee Lheue

Jika aku seorang pelukis sentimentil, aku tak memintamu memuisikan matahari tenggelam di Ulee Lheue yang riuh lalu lalang sepeda motor. Untung saja aku pelantun azan yang tak membiarkan puisi-puisimu mendahului sembahyang.

Magrib yang reuneum dengan arak awan yang digerakkan menuju pulau Sabang, mengingatkanku pada kepergian saudara-saudaraku magrib 24 Desember 2004 lalu. Saat Ulee Lheue benar-benar sepi dan tak ada satu pun  penyair yang mampu menerjemahkan setelahnya.

Ulee Lheue tak akan jadi puisi. Kecuali pemerintah memaksa membuat satu antologi bagi penyair istana sebagai sumbangsih peradaban bahwa teks puisi sama pentingnya dengan kompetisi merebut kursi walikota Banda Aceh; terlihat beradab di permukaan.

Mungkin, dalam riak kecil di bibir pantai, aku akan menemukan pesan dari orang yang pernah diseret gelombang pada 26 Desember lalu; bahwa kota kian berkembang biak hingga merampas garis pantai. Banda Aceh tumbuh sesuai selera pemerintah dan abai bencana.

Jika aku telah jadi pelukis, aku tetap melantunkan kenangan saat-saat mendekati azan. Ulee Lheue bisa sedikit rehat.

HEROTISME

Saya cukup terhibur dengan perilaku politikus Aceh masa kini dan politikus masa lalu yang masih tetap berpolitik dengan sisa kekuatan. Saya mengamatinya dari koran harian dan paling dominan melalui media sosial fesbuk. Saya sama sekali tak terusik dengan apa yang diperbuat para politikus itu. Baik perkataan, status fesbuk dan cara-cara mereka bertengkar memperebutkan hak dalam APBA. Bagi saya, mereka seperti saya juga yang menjalankan tugas profesi. Sama-sama total dan sesekali tertawa walau tak menghibur. Atau kalau sedang sial, ditertawakan orang.

Tugas profesi politikus justru lebih berat. Selain rutin mengiklankan diri, mereka juga mesti punya nafsu lebih dan tak baik mereka tutupi nafsu itu. Nafsu diakui, terlihat bekerja keras memikirkan rakyat dan berusaha tampil bersih dari persengkongkolan. Apalagi di depan ustaz yang juga berpolitik diam-diam. Bahkan, jika mau ditambah nafus-nafsu itu, maka akan berderet membutuhkan satu lapangan bola kaki.

“Herotisme”Idrus bin harun. @2018. Pulpen pada blacu

Gambar berjudul HEROTISME saya buat sekitar bulan Juli lalu menggunakan pulpen. Itu adalah gambar pertama saya menggunakan pulpen di atas blacu. Kain yang lumayan tebal dan biasanya digunakan untuk bahan tote bag dan kerap dibagikan di seminar dan workshop yang dananya besar. Ukuran gambarnya sebesar 50X150 centimeter.

HEROTISME saya pilih sebagai judul setelah gambar selesai 80%. Artinya, saya tak mengonsepkan dari awal kemana gambar ini akan saya imajinasikan. Saya menuruti imajinasi saya sesuai dengan apa yang yang saya hayati dari kenyataan politik yang berlansung di Aceh setahun lalu. Misalnya bagaimana Irwandi Yusuf sebelum ditangkap KPK seakan-akan menjadi pahlawan baru yang nyaris tanpa cela. Lalu bagaimana pertikaian tak ada kata sudah antara Irwandi dan DPRA soal APBA yang diqanunkan. Dari dua fakta itu, saya mengilustrasikannya menjadi simbol-simbol yang lahir dari bawah sadar saya dan tentunya saya membutuhkan waktu untuk merekonstruksikan dalam bentuk yang ilustratif. Bentuk yang tak nyata sekaligus surealis.

Melalui gambar ini, saya lulus seleksi untuk program residensi seminggu di Yogyakarta yang diadakan oleh taman budaya yogya melalui program Nandur Srawung #5. Di program ini, gambar ini tak ikut serta dipamerkan. Gambar ini hanya sebagai contoh karya visual yang saya buat konsep dan saya uraikan maksud-maksud tanda yang tertera dalam gambar.

Saya tak menyebutnya ini lukisan. Karena saya tak peduli apakah saya melukis atau menggambar. Saya lebih senang bicara konsepnya dibandingkan harus muluk-muluk di kategori dan teknik serta genre.

Bulan lalu, saya kirimkan untuk ikut seleksi pameran yang diadakan oleh galeri nasional dengan tema pameran serambi seni. Karya ini lulus dan ikut dipajang bersama 36 karya lain. Di antaranya ada 6 karya koleksi negara yang dibawa dari Jakarta. Saya tahu, gambar ilustrasi yang dipajang bersama lukisan aneka warna, menjadi amat suram ungkapannya. Apalagi, tanpa saya bingkai. Tapi bagi saya, yang paling penting, orang bisa menikmatinya dan timbul diskusi kecil di depan karya dipajang. Itu sudah cukup berhasil.

Terakhir, karya ini saya jual kepada siapa saja yang berminat. Minat di sini maksudnya benar-benar ingin memiliki dari hati yang dalam. Soal harga, mana pernah mahal karya seni?

Dan penentuan harga dan tawar menawar akan berlansung terbuka di komentar.

Salam

@marxause