Banda Aceh dalam Magrib Ulee Lheue

Jika aku seorang pelukis sentimentil, aku tak memintamu memuisikan matahari tenggelam di Ulee Lheue yang riuh lalu lalang sepeda motor. Untung saja aku pelantun azan yang tak membiarkan puisi-puisimu mendahului sembahyang.

Magrib yang reuneum dengan arak awan yang digerakkan menuju pulau Sabang, mengingatkanku pada kepergian saudara-saudaraku magrib 24 Desember 2004 lalu. Saat Ulee Lheue benar-benar sepi dan tak ada satu pun  penyair yang mampu menerjemahkan setelahnya.

Ulee Lheue tak akan jadi puisi. Kecuali pemerintah memaksa membuat satu antologi bagi penyair istana sebagai sumbangsih peradaban bahwa teks puisi sama pentingnya dengan kompetisi merebut kursi walikota Banda Aceh; terlihat beradab di permukaan.

Mungkin, dalam riak kecil di bibir pantai, aku akan menemukan pesan dari orang yang pernah diseret gelombang pada 26 Desember lalu; bahwa kota kian berkembang biak hingga merampas garis pantai. Banda Aceh tumbuh sesuai selera pemerintah dan abai bencana.

Jika aku telah jadi pelukis, aku tetap melantunkan kenangan saat-saat mendekati azan. Ulee Lheue bisa sedikit rehat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *