Sebuah Proyek Mengajak Lupa

Judul gambar ini saya pilih berdasarkan hasil akhir dari konstruksi visual yang berhasil saya dirikan. Objek utama dari gambar ini adalah mesin giling yang dikendarai oleh figur jenderal di atas tanah berlumpur. Figur jenderal yang sedang melakukan proyek meratakan segala artefak kekerasan yang saya simbolkan dengan kuburan, adalah bentuk penghilangan bukti untuk lari dari tanggung jawab pengadilan dengan meratakan dengan tanah semua fakta. Bahwa kasus pelanggaran HAM hanya bisa diselesaikan dengan bentuk permintaan maaf, adalah kekeliruan elit bernegara. Korban kekerasan di masa lalu masih setia menunggu keadilan dalam sabar. Dalam hancurnya perasaan hingga air mata mereka membentuk sungai kesedihan yang menghanyutkan banyak sekali kesedihan kepada kita.
Gambar ini adalah bentuk ilustrasi yang merangkum semua jejak kekerasan di masa lalu. Kekerasan yang ditinggal di Aceh tanpa pernah diungkap dengan terbuka. Kasus-kadus pelanggaran HAM di Aceh telah disuarakan berkali-kali. Namun suaranya samar-samar menghilang di tengah gempita kampanye dan peristiwa politik elektoral yang saban menit menggoda kita untuk ikut terlibat mengomentari drama dan intrik-intrik timses. Terutama di media sosial.
Pemerintah Aceh yang kita harapkan sebagai tameng pelindung rakyat Aceh, jangankan menyuarakan suara rakyat ke pemerintah pusat, melindungi diri dari tekanan Jakarta saja tidak sanggup. Brat mumang awak nyan!
Akhirnya, kita hanya mampu menyimpan arsip itu dalam benak masing-masing dan menyuarakannya secara parau dan bahkan sudah tak terkatakan lagi. Suara rakyat nyaris bungkam dan melupa.
Bit-bit meuilanya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *