M A R U D O K

Marudok adalah makhluk rekaan yang tinggal di langit. Dalam bahasa Indonesia, Marudok lebih kurang berarti “Induknya mendung”. Langit yang tertutup awan hitam, semuanya lahir dari Marudok. Ia merupakan gumpalan awan yang menyendiri setelah melahirkan mendung-mendung. Dari mulutnya yang bergigi tajam, kelak akan lahir cerita-cerita tentang perang di bumi, huru-hara dan hura-hura elit penguasa bumi.

Continue reading “M A R U D O K”

Humor Berbau Fitnah

Awalnya dari sering mendengar Bang Dayat membual tentang lelucon-lelucon tentang perilaku orang terdekat kami di #bivakemperom, yang saya sendiri ikut dileluconkan, istilah ini akhirnya disepakati menjadi kumpulan humor jika bang Dayat datang.
Saya tidak akan memberi tahu siapa Bang Dayat. Ini nama tak sebenarnya. Karena demi melindungi privasi dan kenyamanan beliau sebagai sosok humoris yang selalu ingin hidup dan bercerita dengan nyaman dan tak putus tertawa.
Dulu, ketika Bang Dayat belum sesibuk sekarang, ia sepanjang hari menghibur kami di rumah dengan cerita yang ia selipkan fitnah di dalamnya. Fitnah di sini bukan perkara seserius fitnah yang kita kenal “lebih kejam dari pembunuhan”. Fitnah di sini adalah fitnah yang masih bisa diterima akal dan perasaan sehat. Sepintas terdengar kejam. Tapi kalau dihayati secara mendalam, ia bagai lawak yang menertawai perilaku kita sehari-hari.
Suatu hari, @bookrak memperlihatkan video yang ia baru donlot dari yutub. Video itu memperlihatkan seorang jama’ah haji Indonesia sedang kemasukan jin. Seorang jama’ah lain menanyakan siapa gerangan jin itu. Si jama’ah haji perempuan itu menjawab dengan nada seram, “Idruuuuuss…!”. Maka, jika bang dayat memanggil nama saya, panggilan akan menggunakan nada itu. Menyeramkan. Namun, siapa saja yang mendengar, akan menertawai saya. Dan itu bakal diceritakan kilas balik untuk jangka waktu lama oleh beliau.
Malam ini, saya disuruh beliau ke rumahnya untuk satu keperluan. Datanglah saya ke sana. Dari atas tangga turun ke lantai satu rumahnya, ia sudah memanggil saya “idruuuusss..!”. Tamu yang menunggu di bawah tertawa dan ada pula yang tidak mengerti kenapa beliau demikian. Saya tertawa saja.
Setelah salaman. Ia bertanya tentang proyek membukukan kumpulan humor berbau fitnah itu. Saya katakan saya hampir lupa dengan istilah itu. Karena sudah berselang tahun tidak pernah jumpa dengan beliau.
Sambil merokok dan berkain sarung, beliau mulai berlelucon tentang dua hal yang membangunkan abu (guru ngaji) tidur.
“Apa itu?” Tanyaku.
“Datangnya waktu mengajar,” jawabnya.
“Satu lagi?”
“Datangnya orang bersedekah”
😂😂😂😂😂😂

Galeri Seni: Sebuah Pengantar

Pengantar: 

Esai ini saya tulis Januari 2015. Saya meniatkannya untuk dimuat di kolom apresiasi Serambi Indonesia. Namun tak pernah dimuat setelah beberapa kali revisi. Esai di bawah ini adalah esai yang belum saya revisi kala itu. Dari pada tersimpan dalam kotal terkirim, saya mempostingnya di sini. Saya tahu bahwa, galeri nasional tahun 2014 saat melakukan sosialisasi kala itu tahun 2014, sudah berbenah. Saya pun sudah tak lagi berharap adanya galeri di Aceh. Karena, ternyata ada tiadanya galeri seni rupa, @kanotbu telah beberapa kali mengadakan pameran seni rupa. Berharap pada pemerintah akhirnya jelas keliru. Lantaran, pemerintah Aceh super sibuk setelah perang.   Continue reading “Galeri Seni: Sebuah Pengantar”

[Hikayat] Sebiji Batang Ganja

Hikayat ini saya tulis untuk keperluan penampilan @fooart alias Fuady. Seniman @kanotbu spesialis hikayat dan musik. Hikayat ini dibacakan atau lebih tepatnya dinyanyikan dengan diiringi oleh Wukir Suryadi dari band Senyawa yang eksperimental dan Eko Potro Joyo yang memusikkan sastra kebatinan Jawa sebagai arsip sastra kuno.
Saya dan Fuady sering bekerja sama menulis hikayat. Dia sangat banyak memiliki perbendaharaan kata Aceh yang jarang saya dengar. Sementara saya hanya menggunakan kata-kata sehari. Modal saya menulis hikayat cuma menjaga antukan baris atas dan baris bawah saja tetap pas. Soal tema, saya mendiskusikannya dengan Fuady biasanya.

Continue reading “[Hikayat] Sebiji Batang Ganja”