November dan Calon Presiden Pemarah

No Vember berkedip-kedip hampir setiap petang. Bulan basah dan jalan becek depan rumah, seperti perpaduan pura-pura antara politik dan religi: Hanya penyair kurang wawasan yang mampu berpura-pura netral menjelang pilpres.

Besok sore, ketika nada hujan berdenting dari genteng mesjid di kampungku makin tinggi, aku ingin lansung azan cepat beberapa menit. Orang-orang ingin ritual beragama cepat-cepat selesai. Seperti doa yang yang dipendekkan imam.

Doa para calon penguasa di Jakarta, belum sampai ke Banda Aceh. Mantan tentara yang marah-marah macam Prabowo, mati-matian mengalahkan Jokowi, namun itu sulit.

November masih merangkak menuju hari pemilihan. Aceh masih berada di simpang. Antara beragama dan siap perang dengan penjajah, atau fanatik kepada calon presiden yang tiba-tiba menjadi reliyes.

Yang mendadak relijiyes dan cerewet di medsos, sama seperti hujan di atas seng: ribut, bikin pusing dan mual. Untung saja masih ada video pendek artis buka celana dan meme yang menghibur.

Selebihnya, tukang khutbah musiman yang sibuk menuding dan melebel orang salah.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *