[HIKAYAT] CULTURA

Sayang pade umu lhee buleuen
Ka jeut keu umpeuen lumo panyang pha
Ta jaga adat lagee ta jaga uteuen
Bek dikeureubeun demi rupia

Jalo lam krueng angen peu jak
Galah teupacak layeue geu laya
Budaya Aceh jino ka supak
Adak pih meugrak lambat diputa

Angen barat dipot u timu
Mandum dibahu pu-pu yang na
Dari Banda trok u Simeulu
Budaya endatu saban ta jaga

Kuneng-kuneng putik boh langsat
Ta pajoh mangat lam lampoh raja
Budaya Aceh seureuta adat
Meubalot syari’at asoe agama

Tajak u Bireuen piyoh di Meureudu
Sira pajoh bu seumbahyang Asa
Budaya kaphe meu-iku-iku
Budaya endatu peuduek icong bara

Bukon that sayang putik boh mamplam
Angen simalam duroh meubura
Adat keuneubah peugot ta gulam
Ta jaga reusam bek gob peugala.

[Hikayat] Sebiji Batang Ganja

Hikayat ini saya tulis untuk keperluan penampilan @fooart alias Fuady. Seniman @kanotbu spesialis hikayat dan musik. Hikayat ini dibacakan atau lebih tepatnya dinyanyikan dengan diiringi oleh Wukir Suryadi dari band Senyawa yang eksperimental dan Eko Potro Joyo yang memusikkan sastra kebatinan Jawa sebagai arsip sastra kuno.
Saya dan Fuady sering bekerja sama menulis hikayat. Dia sangat banyak memiliki perbendaharaan kata Aceh yang jarang saya dengar. Sementara saya hanya menggunakan kata-kata sehari. Modal saya menulis hikayat cuma menjaga antukan baris atas dan baris bawah saja tetap pas. Soal tema, saya mendiskusikannya dengan Fuady biasanya.

Continue reading “[Hikayat] Sebiji Batang Ganja”

Mukaddimah Pelantikan Gubernur

Selamat untuk masa tugas Gubernur baru yang dilantik hari ini. semoga berbahagia dan murah senyum selalu dalam tugas.

hari ini adalah hari di mana kalian berdua serupa pengantin baru. dielu-elukan, disambut dengan teriakan dan sapaan paling menggetarkan siapa saja orang biasa yang belum pernah mendapat tahta. kalian berdua akan dipeusijuek oleh tetua adat atau ulama.

kami yakin, agenda pertama yang akan kalian lakukan adalah menuju podium dan menyapa para hadirin dengan santunnya. kalian akan memuji Tuhan dan itu wajib atas nama iman. walau Tuhan tidak akan berubah kedudukan di singgasanaNya seandainya kalian luput memujiNya.

lalu, kalian akan memberi penghormatan kepada orang yang duduk di kursi barisan pertama. lalu kalian akan mengucapkan terima kasih dengan sungguh-sungguh bahwa dengan adanya mereka sebagai kaum elit, sipil dan militer dan birokrasi, daerah jadi semakin berwarna.

kemudian, kalian akan mengucapkan ucapan bangga kepada kepala SKPD yang telah melakukan kerja-kerja paling serius selama masa Pemilukada berlansung di mana setiap instansi pemerintah dipimpin oleh birokrat murni yang dipilih oleh Pjs Gubernur.

kalian  pula harus memberi penghormatan luarbiasa kepada ulama karena telah mendoakan dengan iklas sehingga Aceh tetap menarik dan menjadi daerah serambi mekkahnya Indonesia.

sesudahnya, kalian akan menyapa Partai Politik yang mengusung kalian menuju Aceh 1 dan 2. baik itu Parlok atawa Parnas (untuk dua golongan ini, kalian harus memasang mimik serius. kalau bisa, lakukan tanpa tekanan siapa-siapa, karena, dukungan politis itu harus dibayar dengan harga mahal kelak). keberadaan partai politik sejauh ini berguna ketika sedang terjadi khanduri demokrasi. selebihnya tidak. ini menurut pandangan kami. lihatlah, pak gubernur!! mulai besok semua tindakanmu (termasuk yang paling remeh dan pribadi) akan selalu dipandang melalui kacamata politis. engkau salah tempat berdehem pun akan dianggap sebagai tindakan politis dan mempengaruhi dukungan di parlemen.

kekuatan parlemen kita tidak lagi terletak di rasionalitas anggotanya dalam menanggapi persoalan. mereka cenderung menuhankan mekanisme lobi dan voting. aku yakin, seorang politikus yang berumah di parlemen bukan orang sembarangan yang mantan pengangguran. mereka kaya-kaya dan 99% berkacamata. tahu kenapa? kacamata adalah manifestasi intelektual,simbol kelas sosial yang ‘terlalu kenyang sekolahan’. politikus di Parlemen kita bukan anak kemaren sore yang dengan mudah diiming-imingi permen dan es krim murahan. mereka memegang legalitas kuat untuk mendongkel atau mencabut mandat kalian,dengan catatan kalian mesti turut kehendak mereka untuk bersatu suara. kalian dibuat tak nyenyak tidur kalau kalian membangkang. pelajari kembali kisah-kisah  orang-orang terdahulu sebelum kalian.

ah sudahlah, kalian harus melanjutkan kata penghormatan untuk awak media massa yang telah menyebarluaskan informasi hingga ke kaki gunung Leuser. bahwa di Banda Aceh sejarah baru telah dimulai: Aceh mempunyai nakhoda baru yang dipilih rakyat untuk mengorbankan diri. media massa telah bekerja sebagai salah satu elemen demokrasi. maka kalian harus memberi apresiasi tulus atas kerja-kerja begini. kalau tidak, kalian juga bisa dijungkirbalikkan oleh selembar koran di warung kopi. kerja membentuk opini di kalangan akar rumput tidaklah sulit bagi awak media. mereka bisa saja membalikkan fakta begini di muka koran mereka: ‘sebatang kelapa tiba-tiba menjadi pinang’

maka, berikan penghormatan buat media massa!! mereka berpengaruh dalam iklim politik kita walau mereka tidak bisa tidur nyenyak dalam gedung parlemen saat rapat paripurna anggaran. mereka kuli tinta, tugasnya mengumpulkan data. beda dengan politikus. mereka melempar wacana, lalu mereka tidur pulas.

jika telah memberi penghormatan begitu rupa buat awak media. silakan lanjutkan:

ucapkan keterharuan kalian buat panitia acara. betapa mereka telah berpeluh basah untuk perhelatan monumental ini. mereka menjadi tuan rumah yang baik dengan menyiapkan segalanya. kenanglah jasa mereka selamanya.

lalu konsentrasi kembali untuk menyusun kalimat singkat untuk sebuah ucapan terimakasih tak terhingga bagi semua aparat keamanan. atas kesungguhan mereka menetralisasi pusat pelantikan sampai sejauh radius satu kilo meternya. ini penting untuk menampakkan pada orang luar bahwa negeri kita sebenarnya tidak ada ribut-ribut atas alasan kedengkian antar kontestan pemilukada. jangan lupakan mereka!! kalau perlu, jika tak ada keributan (biasanya keributan di perhelatan begini terjadi saat pembagian konsumsi: berebutan), biarkan mereka berteduh di bawah pepohonan. mengingat suasana siang di kota Banda Aceh panasnya luarbiasa. kasihan mereka.

segera ucapkan terimakasih kepada Timses yang telah berkenan memberi tenaga dan pikiran. keberadaan mereka penting dalam masa-masa kampanye. mereka adalah tulang punggung sebuah kampanye. keberadaan mereka lebih penting dari keberadaan kuwah pliek pada jamuan makan siang. atau setidaknya sama pentingnya dengan keberadaan sebatang rokok ba’da makan. jangan lupakan mereka.

setelah tetek bengek itu berlansung untuk jangka waktu satu setengah jam. dan orang-orang yang diberi penghormatan menganggukkan kepala sekedarnya tanda mereka beritikad baik atas tugas-tugas masing-masing. maka, tunggulah orang-orang riuh bertepuk tangan. nikmati sensasi langka ini untuk beberapa kala. sensasi ini tak akan sama rasanya dengan mendapat sentuhan-sentuhan kata-kata cinta masa remaja. boleh jadi lebih atau sebaliknya. dan itu terlalu tidak penting untuk dikomparasikan.

mengingat waktu sangat terbatas diberikan, jangan terlalu lama menikmati sensasi. dan ingat! jangan sekali-kali memberi wejangan di tengah para undangan, kasihan mereka kegerahan di bawah tenda di halaman. kalau perlu sirami mereka dengan guyonan ringan yang cukup mengendurkan saraf yang tegang.

segera aturkan kembali kata-kata penuh kesantunan bagi yang belum mendapat penghormatan maupun ucapan terimakasih terdalam.
kira-kira siapa,ya?

 

Gubernur dan Kebutuhannya

Kami tahu bahwa jalan seorang gubernur tidak semulus jalan seorang politikus level kampung untuk sampai ke pucuk kekuasaan. Kuasa atas engkau sungguh besar. Engkau boleh saja berlaku sesuka hati; mendamprat bawahan atau bahkan menempelengnya jika lengah terhadap kepentingan kami. Ini bukan saja dilatari adagium ‘pemerintah adalah pelayan pemerintah’. Ini soal cita-cita sebuah bangsa merdeka. Sebuah bangsa yang penuh ceceran darah di sejumlah persinggahan masa dan tonggak sejarah. Bangsa yang dalam perjalanannya banyak mengalami hal-hal di luar dugaan. Inilah negeri yang dicintai dan paling menggemaskan dalam buku sejarah di sekolah-sekolah.

Apa pun alasan anda menjadi seorang gubernur akan tetap kami mengerti dengan modal pendidikan politik minim. Ini berkaitan erat dengan sejarah dimana kehidupan kita selalu dijauhkan dari hal-hal berbau politis. Dari jamannya Van Heutsz hingga era Soeharto. Semua keedanan ini harap sedikit dimaklumi dengan segala keiklasan. Bangsa kita apolitis dan kalau bisa menghindari ini sedapat mungkin. Karena jika segala tindakan mereka berbau politis bisa dipastikan akan dicap cari gara-gara. Tentu ini amat menakutkan.

Namun, dengan sejarah pemberontakan yang sampai ke tangan kita hari ini, kita haruslah bangga bahwa bangsa kita memang apolitis umumnya. Namun, sekali saja melakukan tindakan politis, maka dapat mengguncang kantor-kantor pemerintah di jakarta. Tapi, itu tidak tepat diulang-ulang di zaman damai macam sekarang.

Kami tahu kalau segala urusan rakyat tidak selesai tanpa campur tangan kaum birokrat. Mustahil rasanya kalau sekolah yang roboh dibangun kembali tanpa usul dana ini dana itu oleh pihak pemerintah. Absurd juga kalau seandainya tanpa pemerintah, mana sanggup rakyat menambal lubang di jalan kampung. Karena pemerintah, maka usaha-usaha perbaikan bisa disegerakan.

Pemerintah yang waras wajib punya tangan untuk menjangkau segala hal. Dengan catatan tidak menjadi pengganggu kenyamanan rakyatnya untuk berserikat dalam organ-organ bentukan sipil. Tidak menjadi pembungkam atas ekspresi rakyat di mimbar-mimbar bebas. Pemerintah yang bertindak dinamis dan layak dijadikan tempat untuk berlindung dari segala fenomena menakutkan. Semacam fenomena ‘devide et impera’ saat pra pilkada  beberapa waktu lalu.

Kami senang ketika engkau menolak dibelikan modil dinas baru. Karena alasan pemborosan anggaran. Ini membanggakan. Tapi, engkau bisa saja tak butuh mobil baru. Namun, ada seribu bawahanmu menginginkannya. Dengan alasan menggunankan mobil lama jauh lebih boros bea rusaknya. Sehingga dengan alasan sesepele itu anggaran belanja bocor lagi untuk hal-hal kekanak-kanakan itu.

Kadang, kita malu dengan anak nakal yang memaksa ibunya untuk membelikan mobil-mobilan baru di pasar bak uroe peukan.  Bahkan kita lebih malu dengan tindakan merengek seorang pejabat yang ngambek  karena tak dibelikan mobil baru. Ini fenomena klasik yang tak akan pernah dihilangkan dari psikologi pejabat baru yang mengalami euphoria tiba-tiba serba disedia.

That palo!

Sekolah, Gubernur, dan Kata Sambutannya

Di sekolah, debu tetap menciptakan kotor. kertas-kertas bekas tetap menempati tong sampah sampai berhari-hari. Dalam kelas, murid-murid malas tetap menginginkan sekolah diliburkan saja karena sama membosankan dengan memancing ikan. Sementara guru-guru dengan bijak mengantri mendapatkan upah dibayarkan. Selebihnya, sekolah tetap mempunyai daya tarik tersendiri karena mempunyai kantin tempat menghabiskan uang.

Kita tak pernah bertanya. Kita tak pernah dengan cerewet meminta seorang kepala sekolah berbagi hikmah tentang betapa rumitnya mengatur peruntukan uang untuk kepentingan pembelajaran. Dan tetap sabar menunggu pertanggungjawaban tertulis di mading sekolah setiap akhir pekan. Sehingga uang menjadi liar, terbang ke sana kemari tak terkendali. Dan kepala sekolah semakin tertekan karena tak ada tempat berbagi, soal betapa sulit mengendalikan kepemimpinan. Mirip-mirip kerja seorang gubernur sipil yang memimpin rakyat di barak serdadu.

Dalam sebuah pagi dalam upacara bendera, seorang gubernur berkata, “kepemimpinan itu hidayah dan kemahapemurahan Tuhan. Tuhan yang di langit sana memelototkan pandangan pada setiap insan. Maka, mana mungkin kita akan mengkhianati Tuhan. karena dia tak pernah ngantuk.” sambil menyeka peluh di jidat yang tak begitu lebar. Diusap-usap kumisnya yang tebal. Jam berputar melambat seperti siput yang linglung. Angin pagi terasa jauh lebih perih dari puisi Sapardi.

Iya, benar. Kepala pemerintahan benar. Dan kita pun mengaminkan doa-doa di pagi senin setelah bendera dikibarkan. Kita tahu doa pada acara seremoni dan rutin begini sama berharganya dengan kehadiran minuman pada jamuan makan malam yang pedas-pedas. Dan kita hadir tanpa diundang.

Sekolah tak pernah melarang kita untuk berekspresi. Di buka ruang lebar selebar-lebarnya. Kita dilindungi undang-undang dan kitab-kitab hukum yang tebal. Namun, jangan memaki. Tapi, tulislah sesuatu yang menyakitkan dalam diari-diari pribadi. Agar moralitas tetap tejaga. Perbanyak beristighfar jika mendengar sesuatu yang sedikit di luar nalar. Jika mendengar berita semisal terungkapnya selingkuh resmi dan berkait dengan urusan kedinasan. Jangan diam menanggapi setiap keanehan. Kita dicap tak berselera dan sedikit kekurangan semangat hidup.

Berita-berita tetap dihangatkan pagi-pagi dengan tingkah reporter janggal. Walau tanpa sarapan sekali pun, kita dapat dengan mudah membaca apa yang belum dan telah terjadi di sana. Walau kita sadar bukan paranormal.

@marxause

Hari-hari di awal tahun tak ubahnya segerombolan maling yang membawa lari barang-barang kepunyaan. Ingatan-ingatan lama dirampas dengan brutal dari pikiran. Kejadian-kejadian baru tanpa ampun memenuhi otak berkapasitas terbatas. Kejadian-kejadian itu menyibukkan kita untuk berjam-jam membereskan setiap hal. Dalam jam dinas kita tak butuh seseorang datang menghibur. Kalau tak dapat menghibur diri sendiri, gunakan menit-menit santaimu dengan berhayal bila kelak banyak uang, kita ingin memiliki sepetak kebun di bulan. ini serius.

Sekolah bukan gelanggang politik. Hanya satu bendera yang boleh bersenda gurau dengan angin setiap hari. Di sana, apa pun yang berbentuk politis-kaos kaki sekali pun- tak dimaklumkan untuk beranak pinak. Sekolah diperuntukkan buat  orang-orang yang semenjak kecil bercita-cita berdamai dengan masa depan. Apakah kita sudah lupa? sekolah tercipta bukan karena kita bodoh. Bukan karena kita takut jika tak sekolah akan repot berkomunikasi dengan tetangga kiri kanan. Bukan!. Dan tak mungkin. Oh iya, kita juga tak pernah takut jika  tanpa sekolah, maka tak ada yang dapat diharapkan pada seseorang untuk kita angkat sebagai pemimpin kita. Karena lembaga pemerintahan kita dari dulu sekali, tak pernah sekali pun kita dengar direbut paksa orang-orang dungu, paling-paling menjadi tempat berkumpulnya sekawanan keledai. Itu pun cuma fiksi.

Limbung ditusuk Sepi

Kita adalah filsuf bagi diri sendiri. Meskipun tanpa pengalaman dan sekolah tinggi-tinggi. Kita tetap disambut hangat di sejumlah pasar. Karena kita pintar dan bergaji. Terus, setiap hari mabuk puisi. Bahkan seorang penyair  paling cerewet sekali pun tidak sampai hati harus mendeklamasikan syair di depan kita. Karena kita sendiri adalah puisi yang selalu saja misteri.

Suatu hari nanti kita akan sangat inspiratif menjalani hidup ini setelah berkali-kali limbung ditusuk sepi. Lalu, kita dengan tergopoh-gopoh berbagi tips tentang mengarungi hidup yang seringkali sulit diprediksi. Sebenarnya kita hanya mengada-ada dan kebetulan sekali kita menguasai ilmu berbahasa yang lumayan bagus dan berbakat menjadi pembual.

Our History

Sejarah yang sampai ke tangan kita telah lapuk dan beruban. Betapa tuanya.

Hari ini, sejarah kita makin panjang dan dijejerkan sepanjang jalan buntu. Di galeri-galeri ingatan yang kian pikun.

“Sejarah  belum bisa menjadikan kita aqil baliqh,” kata sejarahwan lokal. Kita harus berkali-kali lagi mengalami mimpi basah agar memori tak mudah lekang.

Di kota kita, sejarah dibuat berbeda atas kehendak pemuka-pemuka politik. Di kampung-kampung sejarah diatasnamakan.

Yang Ringan-Ringan dari Asmara

 

Membanding-bandingkan tatapanmu dengan mata kucing biasanya membuatku lekas ngantuk. Membayangkan engkau kelak beranak pinak tanpa kasih sayang semestinya, serta merta membuatku menghindari membuat pernyataan resmi tentang perasaan-perasaan ganjil. Ini puisi terakhir tentang kasus-kasus asmara yang kadangkala terlalu berlebihan ditanggapi. kau tahu? orang semakin malas memperdebatkan sesuatu yang sifatnya relatif. Duduk di warung kopi, berdiskusi, curhat dan lalu patah hati. Atau mencampuri urusan orang lain dengan kehendak menggurui. Masalah-masalah pribadi dibongkar tanpa ampun. Dan warung kopi menjadi semacam pasar yang menjual keluhan-keluhan.

Kita dibesarkan dalam budaya lawak yang pada dasarnya teramat sulit buat ditertawakan. Televisi, papan rekalame, selebaran, brosur-brosur telah memenuhi kepalaku dan ruang hatimu.

Lalu di sepanjang tutue pante pirak saat iklan-iklan papan reklame mengencingi kepala kita dari atas, aku kehilangan kata cinta. Kita memungut asmara yang terkontaminasi polusi. Urbanisme menjadikan ruang di kepala kita tak muat menempatkan asmara. Kita hanya bisa memalsukannya atas nama dorongan seksual. Selebihnya, berpura-pura alim ketika musik-musik erotis diperdengarkan di rumah-rumah bordil.

Maka, pulanglah setelah melampiaskan libido. dan bawakan aku cinta yang ringan-ringan. dan mudah ditertawakan di saat waktu senggang.