Bivak Emperom pada 2010

Kita menyebutnya republik, tanpa presiden dan dewan musyawarah. Hukum-hukum kita ciptakan sambil mencabut rumput. Hukum yang kita sepakati jika memang tak bikin mual, akan kita lestarikan sebagaimana tetangga kita melestarikan hewan buas yang hampir punah. Dan aturan-aturan temporer itu, jika sudah tak layak untuk berlaku, siapa saja antara kita, bebas membantingnya ke tembok pagar.

Akan tetapi Bivak Emperom tetap tak sesepi dahulu, ia bahkan sudah mampu memamerkan lika-liku jalannya sejak pemerintah menancapkan penerang penuh sentuhan estetik. Hingga beberapa kalanya angin mesum meluncur mulus dari ketinggian Glee Geunteng. Adakah ini isyarat paling rahasia dari alam yang memaksa kita untuk tak berlama-lama lagi memeluk guling?. Kita mesti menjawab secepatnya sebelum didahului kokok ayam rumah sebelah. Atau buru-burulah mengelabui perasaan seseorang.

Di sana, siapa saja pernah berupaya menciptakan suasana mirip-mirip puisi?. Bisa dikatakan tidak ada. Sebab bunga-bunga yang kita cabut paksa di pinggir jalan, tumbuh dengan keringatnya sendiri. Meskipun sekali-sekali kita tak sabar ingin melihatnya mekar walau baru kemarin kita tancap di tanah.

kita tak tercipta dari pemikiran filsuf atau kegilaan versi Bernard shaw. Juga tak dibesarkan oleh sikap kritis pendosa-pendosa politik. Tak mengherankan kalau sedikit gagap menjabarkan kekeliruan politisi yang rata-rata “klo prip”. Atau ikut-ikutan latah memaki keadaan yang tak kunjung mengganti pakaian seperti hajat orang banyak.  Bivak Emperom, seperti juga tempat lain. Ia memenuhi kewajibannya sendiri, dengan keberadaan kopi. Kami rutin menjenguknya, sekedar membasuh kepala dengan sanger panas atau kopi encer. Namun, sebab harga-harga sudah tak masuk akal, kian hari jantung kita sudah tak sekuat dulu. Untuk cafein-cafein yang brutal.

Mungkin, sudah waktunya berbicara kesenian selain bermain Pe-Es. Sebab kesenian juga seperti sifat Pe-Es. Membuat kita penasaran. Kesenian yang tidak sekedar untuk dipajang sebagai pemuas nafsu di akhir pekan. Kesenian yang ketika dilemparkan ke tengah-tengah rakyat putus sekolah akan memberi makna dan gairah buat melanjutkan kehidupan.

Mungkin seperti hikayat panjang yang dibacakan dalam event-event tertentu adalah salah satu wujud nyata dari pencapaian itu. Jangan terburu-buru menyebut puisi. Sebab puisi-puisi yang terlanjur kita tulis, mendadak dikembalikan redaktur. Kita juga bingung dengan puisi sendiri, kita mati-matian berupaya membuat orang rebah dalam kalimat, agar secepatnya disebut penyair. Penyair berkalung diksi indah.

Tapi, jangan berusaha mengikuti Rendra atau Afrizal Malna. jangan pergi bersama sitor situmorang untuk bertapa di bukit kata. Enyahkan Sutardji dari pemilahan makna untuk kata-kata kita. Biarkan ia mabuk dengan mantra-mantra individualisnya sendiri. Kelak ia bosan sendiri.

Untuk ukuran kita, kata-kata punya kelebihan sendiri untuk diakrobati saat benak tak stabil benar.

Akhir Pekan Walikota

 

Malam telah jula. Riak-riaknya menari-nari di Kuala Cangkoi mengirimkan aroma garam ke tengah kota. Lampu-lampu di jalan Iskandar Muda teupet-pet bleut kekurangan suplai PLN. Penjual bakso bakar mulai tertunduk ngantuk dan ingin sekali pulang memeluk istri. Sepasang muda-mudi berpelukan di sepeda motor akrab benar. Seperti rindu yang ditahan sekian lama dan tuntas semalam saja.

Malam Jum’at di depan kuburan massal Ulee Lheue, angin menurunkan kecepatan. Daun-daun asam luruh dengan komat-kamit doa yang tak kumengerti apa. Seorang penyair macam kau pasti sok tau lantunan doa dedaunan sepanjang jalan itu. Aku tak paham bagaimana Banda Aceh meukuwien lam sagoe malam jula hingga besoknya, walikota teulat jaga. Masuk kantor dengan pakaian rapi, tapi tak sempat mandi. Seorang pegawai kehumasan menuliskan sebait kata sambutan yang isinya begini:

“Akses air bersih bagi warga kota adalah amanah undang-undang. Yang macet sekali-kali, mohon dimaklumi. Seperti puisi, penyair saja bisa macet imajinasi. Masa’ kita tidak? Jadi, kalau sedang macet, tak perlu mandi. Kecuali macet gaji. Itu sudah resiko tenaga bhakti. Jadi, mohon dimaklumi”

Malam terus meu-iseukBacut-bacut sampai ke pagi. Walikota sedang senam pagi.

Young Artist

Luthfi Al-Faruqi merupakan siswa SD IT di Meureudu. Jika saya sedang di Meureudu dan membawa cat sisa dari Banda Aceh, saya sering menyuruhnya ngecat. Terserah apa yang dia suka. Dari tembok sampai jambo atau mobil-mobilannya.

Saya percaya dia tidak terlalu hobi menggambar. Kecuali kalau ada anak tetangga mengajaknya. Luthfi adalah anak pertama adik saya. Tidak berbeda dengan anak lain, dia suka bercerita apa dia ingin lukis. Biasanya ia akan menceritakan ayah, ibu, adiknya dan pacarnya di sekolah. Anak dalam usia dia sepertinya berlimpah sekali imajinasi.

Bersama seorang teman sepermainannya, ia ketika melihat saya membuat gambar di sketch book, minta juga disediakan kertas dan pena. Bersama temannya itu, ia menggambar rute pergi dari rumah ke sekolah. Seperti anak umumnya, di rumah mereka menggambar ayah, ibu, adik-abang dan pohon di rumah.

Di sepanjang jalan ke sekolah, mereka menggambarkan deretan pohon rindang. Walau, di kota kecamatan Meureudu, tak ada satu pun pohon di depan toko. Meureudu panasnya bukan main.

Gambar mereka berdua sangat naratif. Penuh cerita dan sangat panjang jika dituliskan.

Liburan lebaran kali ini, kami sering menggambar bersama. Bahkan, nanti di postingan selanjutnya, saya akan menuliskan Luthfi melukis mural.

Mumang

Di tengah nyenyaknya parlemen Aceh dan mabuk eksekutif, siang-malam orang-orang membereskan berkas pelanggaran. Capek-capek perang di masa lalu, seperempatnya hanya menghasilkan selusin lebih politikus muda energik yang rindu Aceh damai, namun hobi umbar kebencian. Di media sosial.

Pemilukada adalah anugerah yang disyukuri dengan perebutan dalam bentuk mobilisasi massa, politik transaksi dan distribusi macam bantuan.

Semua terlihat mulia saat dikemas dengan lapik agama dan sikap humanis plus kultural. Yang tergoda, pasti jadi timses.

Politik praktis sungguh lentur. Mengangguk, dibayar. Jika tak, bukan masalah besar.

Meureudu. 2018