Yang Ringan-Ringan dari Asmara

 

Membanding-bandingkan tatapanmu dengan mata kucing biasanya membuatku lekas ngantuk. Membayangkan engkau kelak beranak pinak tanpa kasih sayang semestinya, serta merta membuatku menghindari membuat pernyataan resmi tentang perasaan-perasaan ganjil. Ini puisi terakhir tentang kasus-kasus asmara yang kadangkala terlalu berlebihan ditanggapi. kau tahu? orang semakin malas memperdebatkan sesuatu yang sifatnya relatif. Duduk di warung kopi, berdiskusi, curhat dan lalu patah hati. Atau mencampuri urusan orang lain dengan kehendak menggurui. Masalah-masalah pribadi dibongkar tanpa ampun. Dan warung kopi menjadi semacam pasar yang menjual keluhan-keluhan.

Kita dibesarkan dalam budaya lawak yang pada dasarnya teramat sulit buat ditertawakan. Televisi, papan rekalame, selebaran, brosur-brosur telah memenuhi kepalaku dan ruang hatimu.

Lalu di sepanjang tutue pante pirak saat iklan-iklan papan reklame mengencingi kepala kita dari atas, aku kehilangan kata cinta. Kita memungut asmara yang terkontaminasi polusi. Urbanisme menjadikan ruang di kepala kita tak muat menempatkan asmara. Kita hanya bisa memalsukannya atas nama dorongan seksual. Selebihnya, berpura-pura alim ketika musik-musik erotis diperdengarkan di rumah-rumah bordil.

Maka, pulanglah setelah melampiaskan libido. dan bawakan aku cinta yang ringan-ringan. dan mudah ditertawakan di saat waktu senggang.

Sebait Calon Bupati

Kata timsesnya, ia penyembah Tuhan tipe militan. Bayangkan saja, ketika datang tamu formal, ia salat dan berlama-lama dalam kamar. Amalan personal ia kejar sungguh-sungguh demi surga sendirian. Ia pendiam dan bicara pada jam-jam tertentu. Itu pun kalau sedang mangat teumon bu. Ia selalu menekankan pentingnya menyembah Tuhan pada mantan rakyatnya sembari elitnya, menyembah jabatan dan kong kalikong berjama’ah.

 

Akhir Pekan Walikota

 

Malam telah jula. Riak-riaknya menari-nari di Kuala Cangkoi mengirimkan aroma garam ke tengah kota. Lampu-lampu di jalan Iskandar Muda teupet-pet bleut kekurangan suplai PLN. Penjual bakso bakar mulai tertunduk ngantuk dan ingin sekali pulang memeluk istri. Sepasang muda-mudi berpelukan di sepeda motor akrab benar. Seperti rindu yang ditahan sekian lama dan tuntas semalam saja.

Malam Jum’at di depan kuburan massal Ulee Lheue, angin menurunkan kecepatan. Daun-daun asam luruh dengan komat-kamit doa yang tak kumengerti apa. Seorang penyair macam kau pasti sok tau lantunan doa dedaunan sepanjang jalan itu. Aku tak paham bagaimana Banda Aceh meukuwien lam sagoe malam jula hingga besoknya, walikota teulat jaga. Masuk kantor dengan pakaian rapi, tapi tak sempat mandi. Seorang pegawai kehumasan menuliskan sebait kata sambutan yang isinya begini:

“Akses air bersih bagi warga kota adalah amanah undang-undang. Yang macet sekali-kali, mohon dimaklumi. Seperti puisi, penyair saja bisa macet imajinasi. Masa’ kita tidak? Jadi, kalau sedang macet, tak perlu mandi. Kecuali macet gaji. Itu sudah resiko tenaga bhakti. Jadi, mohon dimaklumi”

Malam terus meu-iseukBacut-bacut sampai ke pagi. Walikota sedang senam pagi.