Young Artist

Luthfi Al-Faruqi merupakan siswa SD IT di Meureudu. Jika saya sedang di Meureudu dan membawa cat sisa dari Banda Aceh, saya sering menyuruhnya ngecat. Terserah apa yang dia suka. Dari tembok sampai jambo atau mobil-mobilannya.

Saya percaya dia tidak terlalu hobi menggambar. Kecuali kalau ada anak tetangga mengajaknya. Luthfi adalah anak pertama adik saya. Tidak berbeda dengan anak lain, dia suka bercerita apa dia ingin lukis. Biasanya ia akan menceritakan ayah, ibu, adiknya dan pacarnya di sekolah. Anak dalam usia dia sepertinya berlimpah sekali imajinasi.

Bersama seorang teman sepermainannya, ia ketika melihat saya membuat gambar di sketch book, minta juga disediakan kertas dan pena. Bersama temannya itu, ia menggambar rute pergi dari rumah ke sekolah. Seperti anak umumnya, di rumah mereka menggambar ayah, ibu, adik-abang dan pohon di rumah.

Di sepanjang jalan ke sekolah, mereka menggambarkan deretan pohon rindang. Walau, di kota kecamatan Meureudu, tak ada satu pun pohon di depan toko. Meureudu panasnya bukan main.

Gambar mereka berdua sangat naratif. Penuh cerita dan sangat panjang jika dituliskan.

Liburan lebaran kali ini, kami sering menggambar bersama. Bahkan, nanti di postingan selanjutnya, saya akan menuliskan Luthfi melukis mural.

Mumang

Di tengah nyenyaknya parlemen Aceh dan mabuk eksekutif, siang-malam orang-orang membereskan berkas pelanggaran. Capek-capek perang di masa lalu, seperempatnya hanya menghasilkan selusin lebih politikus muda energik yang rindu Aceh damai, namun hobi umbar kebencian. Di media sosial.

Pemilukada adalah anugerah yang disyukuri dengan perebutan dalam bentuk mobilisasi massa, politik transaksi dan distribusi macam bantuan.

Semua terlihat mulia saat dikemas dengan lapik agama dan sikap humanis plus kultural. Yang tergoda, pasti jadi timses.

Politik praktis sungguh lentur. Mengangguk, dibayar. Jika tak, bukan masalah besar.

Meureudu. 2018