Sebait Calon Bupati

Kata timsesnya, ia penyembah Tuhan tipe militan. Bayangkan saja, ketika datang tamu formal, ia salat dan berlama-lama dalam kamar. Amalan personal ia kejar sungguh-sungguh demi surga sendirian. Ia pendiam dan bicara pada jam-jam tertentu. Itu pun kalau sedang mangat teumon bu. Ia selalu menekankan pentingnya menyembah Tuhan pada mantan rakyatnya sembari elitnya, menyembah jabatan dan kong kalikong berjama’ah.

 

Akhir Pekan Walikota

 

Malam telah jula. Riak-riaknya menari-nari di Kuala Cangkoi mengirimkan aroma garam ke tengah kota. Lampu-lampu di jalan Iskandar Muda teupet-pet bleut kekurangan suplai PLN. Penjual bakso bakar mulai tertunduk ngantuk dan ingin sekali pulang memeluk istri. Sepasang muda-mudi berpelukan di sepeda motor akrab benar. Seperti rindu yang ditahan sekian lama dan tuntas semalam saja.

Malam Jum’at di depan kuburan massal Ulee Lheue, angin menurunkan kecepatan. Daun-daun asam luruh dengan komat-kamit doa yang tak kumengerti apa. Seorang penyair macam kau pasti sok tau lantunan doa dedaunan sepanjang jalan itu. Aku tak paham bagaimana Banda Aceh meukuwien lam sagoe malam jula hingga besoknya, walikota teulat jaga. Masuk kantor dengan pakaian rapi, tapi tak sempat mandi. Seorang pegawai kehumasan menuliskan sebait kata sambutan yang isinya begini:

“Akses air bersih bagi warga kota adalah amanah undang-undang. Yang macet sekali-kali, mohon dimaklumi. Seperti puisi, penyair saja bisa macet imajinasi. Masa’ kita tidak? Jadi, kalau sedang macet, tak perlu mandi. Kecuali macet gaji. Itu sudah resiko tenaga bhakti. Jadi, mohon dimaklumi”

Malam terus meu-iseuk,  Bacut-bacut sampai ke pagi. Walikota sedang senam pagi.

Dari Celah ke Celah

Tahukah kamu 

Kita hanya pulang pergi dari lubang ke lubang

Memikul kenangan
Selebihnya mencari celah
Untuk mengirim memorial ke tempat teraman

Tak ada waktu menghela nafas.
Kamu hanya butuh desah
Sambil melepas udara pelan-pelan dari hidung
Saat meletakkan kepala di bantal

Mimpi mengkristal lalu dimuseumkan
Orang-orang histeris menyaksikan mimpi dipamer

Kamu tidur
Biar orang mimpikan kita

Young Artist

Luthfi Al-Faruqi merupakan siswa SD IT di Meureudu. Jika saya sedang di Meureudu dan membawa cat sisa dari Banda Aceh, saya sering menyuruhnya ngecat. Terserah apa yang dia suka. Dari tembok sampai jambo atau mobil-mobilannya.

Saya percaya dia tidak terlalu hobi menggambar. Kecuali kalau ada anak tetangga mengajaknya. Luthfi adalah anak pertama adik saya. Tidak berbeda dengan anak lain, dia suka bercerita apa dia ingin lukis. Biasanya ia akan menceritakan ayah, ibu, adiknya dan pacarnya di sekolah. Anak dalam usia dia sepertinya berlimpah sekali imajinasi.

Bersama seorang teman sepermainannya, ia ketika melihat saya membuat gambar di sketch book, minta juga disediakan kertas dan pena. Bersama temannya itu, ia menggambar rute pergi dari rumah ke sekolah. Seperti anak umumnya, di rumah mereka menggambar ayah, ibu, adik-abang dan pohon di rumah.

Di sepanjang jalan ke sekolah, mereka menggambarkan deretan pohon rindang. Walau, di kota kecamatan Meureudu, tak ada satu pun pohon di depan toko. Meureudu panasnya bukan main.

Gambar mereka berdua sangat naratif. Penuh cerita dan sangat panjang jika dituliskan.

Liburan lebaran kali ini, kami sering menggambar bersama. Bahkan, nanti di postingan selanjutnya, saya akan menuliskan Luthfi melukis mural.

Mumang

Di tengah nyenyaknya parlemen Aceh dan mabuk eksekutif, siang-malam orang-orang membereskan berkas pelanggaran. Capek-capek perang di masa lalu, seperempatnya hanya menghasilkan selusin lebih politikus muda energik yang rindu Aceh damai, namun hobi umbar kebencian. Di media sosial.

Pemilukada adalah anugerah yang disyukuri dengan perebutan dalam bentuk mobilisasi massa, politik transaksi dan distribusi macam bantuan.

Semua terlihat mulia saat dikemas dengan lapik agama dan sikap humanis plus kultural. Yang tergoda, pasti jadi timses.

Politik praktis sungguh lentur. Mengangguk, dibayar. Jika tak, bukan masalah besar.

Meureudu. 2018