Bivak Emperom pada 2010

Kita menyebutnya republik, tanpa presiden dan dewan musyawarah. Hukum-hukum kita ciptakan sambil mencabut rumput. Hukum yang kita sepakati jika memang tak bikin mual, akan kita lestarikan sebagaimana tetangga kita melestarikan hewan buas yang hampir punah. Dan aturan-aturan temporer itu, jika sudah tak layak untuk berlaku, siapa saja antara kita, bebas membantingnya ke tembok pagar.

Akan tetapi Bivak Emperom tetap tak sesepi dahulu, ia bahkan sudah mampu memamerkan lika-liku jalannya sejak pemerintah menancapkan penerang penuh sentuhan estetik. Hingga beberapa kalanya angin mesum meluncur mulus dari ketinggian Glee Geunteng. Adakah ini isyarat paling rahasia dari alam yang memaksa kita untuk tak berlama-lama lagi memeluk guling?. Kita mesti menjawab secepatnya sebelum didahului kokok ayam rumah sebelah. Atau buru-burulah mengelabui perasaan seseorang.

Di sana, siapa saja pernah berupaya menciptakan suasana mirip-mirip puisi?. Bisa dikatakan tidak ada. Sebab bunga-bunga yang kita cabut paksa di pinggir jalan, tumbuh dengan keringatnya sendiri. Meskipun sekali-sekali kita tak sabar ingin melihatnya mekar walau baru kemarin kita tancap di tanah.

kita tak tercipta dari pemikiran filsuf atau kegilaan versi Bernard shaw. Juga tak dibesarkan oleh sikap kritis pendosa-pendosa politik. Tak mengherankan kalau sedikit gagap menjabarkan kekeliruan politisi yang rata-rata “klo prip”. Atau ikut-ikutan latah memaki keadaan yang tak kunjung mengganti pakaian seperti hajat orang banyak.  Bivak Emperom, seperti juga tempat lain. Ia memenuhi kewajibannya sendiri, dengan keberadaan kopi. Kami rutin menjenguknya, sekedar membasuh kepala dengan sanger panas atau kopi encer. Namun, sebab harga-harga sudah tak masuk akal, kian hari jantung kita sudah tak sekuat dulu. Untuk cafein-cafein yang brutal.

Mungkin, sudah waktunya berbicara kesenian selain bermain Pe-Es. Sebab kesenian juga seperti sifat Pe-Es. Membuat kita penasaran. Kesenian yang tidak sekedar untuk dipajang sebagai pemuas nafsu di akhir pekan. Kesenian yang ketika dilemparkan ke tengah-tengah rakyat putus sekolah akan memberi makna dan gairah buat melanjutkan kehidupan.

Mungkin seperti hikayat panjang yang dibacakan dalam event-event tertentu adalah salah satu wujud nyata dari pencapaian itu. Jangan terburu-buru menyebut puisi. Sebab puisi-puisi yang terlanjur kita tulis, mendadak dikembalikan redaktur. Kita juga bingung dengan puisi sendiri, kita mati-matian berupaya membuat orang rebah dalam kalimat, agar secepatnya disebut penyair. Penyair berkalung diksi indah.

Tapi, jangan berusaha mengikuti Rendra atau Afrizal Malna. jangan pergi bersama sitor situmorang untuk bertapa di bukit kata. Enyahkan Sutardji dari pemilahan makna untuk kata-kata kita. Biarkan ia mabuk dengan mantra-mantra individualisnya sendiri. Kelak ia bosan sendiri.

Untuk ukuran kita, kata-kata punya kelebihan sendiri untuk diakrobati saat benak tak stabil benar.

Seperti Asam Lambung

Di wajahnya akan tumbuh jerawat. Jika ia terus saja sibukkan pikir. Maka bercumbulah seperti anjuran seksolog langganan.
Niscaya akan mencerdaskan kelamin. Apalagi pagi-pagi. Walau sebentar dan tak parah, selingkuh itu tetap dikenang sebagai hadiah. Hadiah dari proteksi-proteksi yang longgar. Kau akan disebut pintar sama tetanggamu jika kau mampu mempura-purai birahi. Kelak kau akan menjadi ikan di kolam. Jika kau haus terus menerus.

Jangan tunggu mukanya merah padam. Niatkan sebagai jalan menyelamatkan seseorang agar tak jatuh ke jalan buram. Walau kau tak mendapat pahala besar atas upaya-upaya berlendir ini. Ini karya besar yang patut diapresiasi. Tentang bagaimana menghabiskan waktu dengan perilaku-perilaku menggemaskan.

Kami tahu engkau sering berduaan atas alasan yang dapat dibenarkan. Kami tahu engkau sering menulis lirik-lirik sedih ketika sedang berdua. Matamu tak dapat berbohong bahwa sedihmu berlebihan. Engkau dapat saja mengajaknya tidur siang sembari berdongeng tentang dunia yang sebentar lagi kiamat. Tentang lalat yang tak pernah bosan menebar kuman di meja makan. Segalanya mungkin bagimu. Namamu sudah dikenal. Engkau tinggi besar dan sedikit nafsu makan. Yang jika engkau berjalan, sandalmu suka kau seret-seretkan. Dari matamu orang mengenal bahwa setiap kata-katamu patut diaminkan.

Aku masih percaya bahwa galau itu tanda-tanda serius pada perkembangan kejiwaan. Katakan saja padanya jika kau benar-benar menginginkan sebuah pelukan hangat pagi hari. Atau berpura-pura demam sehingga ia memegang keningmu untuk membuktikan suhu badan sedang naik.

Asmara bukanlah asam lambung. Hanya saja bikin mual kalau terus menerus disegarkan dengan pesan pendek semisal, “Selamat pagi,sayang!”

Orang pintar biasanya jauh lebih jernih mengungkapkan keinginan birahi. Biar pun tak tahan ereksi. Namun, kepintaran macam apa yang akan kau tunjukkan padanya jiakalau engkau tiba-tiba kikuk ketika ia membelakangimu.

Kita kaum berkumis dan tak jarang kelihatan seperti banci. Walau orang bilang kita tak pernah malu-malu memperlihatkan birahi di muka umum. Dan sebagai laki-laki, kita nakal sekaligus seperti bayi kalau sudah bermanja.
Le that haba!

Gubernur dan Kebutuhannya

Kami tahu bahwa jalan seorang gubernur tidak semulus jalan seorang politikus level kampung untuk sampai ke pucuk kekuasaan. Kuasa atas engkau sungguh besar. Engkau boleh saja berlaku sesuka hati; mendamprat bawahan atau bahkan menempelengnya jika lengah terhadap kepentingan kami. Ini bukan saja dilatari adagium ‘pemerintah adalah pelayan pemerintah’. Ini soal cita-cita sebuah bangsa merdeka. Sebuah bangsa yang penuh ceceran darah di sejumlah persinggahan masa dan tonggak sejarah. Bangsa yang dalam perjalanannya banyak mengalami hal-hal di luar dugaan. Inilah negeri yang dicintai dan paling menggemaskan dalam buku sejarah di sekolah-sekolah.

Apa pun alasan anda menjadi seorang gubernur akan tetap kami mengerti dengan modal pendidikan politik minim. Ini berkaitan erat dengan sejarah dimana kehidupan kita selalu dijauhkan dari hal-hal berbau politis. Dari jamannya Van Heutsz hingga era Soeharto. Semua keedanan ini harap sedikit dimaklumi dengan segala keiklasan. Bangsa kita apolitis dan kalau bisa menghindari ini sedapat mungkin. Karena jika segala tindakan mereka berbau politis bisa dipastikan akan dicap cari gara-gara. Tentu ini amat menakutkan.

Namun, dengan sejarah pemberontakan yang sampai ke tangan kita hari ini, kita haruslah bangga bahwa bangsa kita memang apolitis umumnya. Namun, sekali saja melakukan tindakan politis, maka dapat mengguncang kantor-kantor pemerintah di jakarta. Tapi, itu tidak tepat diulang-ulang di zaman damai macam sekarang.

Kami tahu kalau segala urusan rakyat tidak selesai tanpa campur tangan kaum birokrat. Mustahil rasanya kalau sekolah yang roboh dibangun kembali tanpa usul dana ini dana itu oleh pihak pemerintah. Absurd juga kalau seandainya tanpa pemerintah, mana sanggup rakyat menambal lubang di jalan kampung. Karena pemerintah, maka usaha-usaha perbaikan bisa disegerakan.

Pemerintah yang waras wajib punya tangan untuk menjangkau segala hal. Dengan catatan tidak menjadi pengganggu kenyamanan rakyatnya untuk berserikat dalam organ-organ bentukan sipil. Tidak menjadi pembungkam atas ekspresi rakyat di mimbar-mimbar bebas. Pemerintah yang bertindak dinamis dan layak dijadikan tempat untuk berlindung dari segala fenomena menakutkan. Semacam fenomena ‘devide et impera’ saat pra pilkada  beberapa waktu lalu.

Kami senang ketika engkau menolak dibelikan modil dinas baru. Karena alasan pemborosan anggaran. Ini membanggakan. Tapi, engkau bisa saja tak butuh mobil baru. Namun, ada seribu bawahanmu menginginkannya. Dengan alasan menggunankan mobil lama jauh lebih boros bea rusaknya. Sehingga dengan alasan sesepele itu anggaran belanja bocor lagi untuk hal-hal kekanak-kanakan itu.

Kadang, kita malu dengan anak nakal yang memaksa ibunya untuk membelikan mobil-mobilan baru di pasar bak uroe peukan.  Bahkan kita lebih malu dengan tindakan merengek seorang pejabat yang ngambek  karena tak dibelikan mobil baru. Ini fenomena klasik yang tak akan pernah dihilangkan dari psikologi pejabat baru yang mengalami euphoria tiba-tiba serba disedia.

That palo!

Bendera

Berdiri dengan kaki pegal dan lutut gemetar saat pagi masih murni adalah pekerjaan kita di masa lalu. Memberi penghormatan terhadap bendera, pemimpin upacara dan lain-lainnya. Kita tahu ada yang yang berkorban untuk sehelai bendera. Meski pun itu dulu sekali saat kita masih berada dalam dunia entah di mana. Kita juga mengerti bahwa untuk mendapatkan kedaulatan negara tidak dilakukan oleh sekelompok orang yang berani karena punya bedil. Bendera ada karena kita berkorban. Nenek-kakek kita yang apolitis, tidak mengerti bahwa kolonialisme itu buruk dan tak patut, berbondong-bondong membantu perjuangan. Meneriakkan kata merdeka di tahun 45.

Hari ini, di tengah gegap gempitanya politik dan banalitas pelakunya, kita tidak lagi harus mengangkat senjata untuk hajat politik. Kita tinggal memetik buah perjuangan orang terdahulu dengan berbagai cara. Kita hanyalah sekolompok orang yang terus memanjakan diri sambil memperbanyak keluhan demi keluhan.

Kita belum sepenuhnya merdeka secara pribadi. Maka kita berceloteh yang bukan-bukan.

Keberadaan bendera Aceh terlepas pro kontra adalah bagai kehadiran anggota baru dalam keluarga. Kita menghamili republik ini. Bukan dengan jalan pemerkosaan. Kita tetap berbaik-baik dalam usaha penghamilan. Penuh norma dan kasih sayang.

Bendera itu penting. Karena kita berada di bawah langit yang setiap hari ada angin dan badai. Dengan benderalah kita tahu ada itu angin dan badai. Karena badai datang bisa kapan saja.

Lalu, bendera tidaklah mengenyangkan serupa nasi bungkus atawa mie goreng kepiting. Bendera tidak membawa pulang sebambu beras tiap hari ke rumah kita. Ia tetap berkibar menegaskan identitas. Bahwa kita bangsa beradab yang sudah lama pontang-panting hidup dalam udara penipuan.

Negara dalam negara hanyalah ilusi ketakutan berlebihan. Kewaspadaan tak perlu. Karena nasionalisme itu sendiri awalnya hanyalah imajinasi sekelompok orang. Aceh, negeri yang dalam tiap seratus tahun punya ledakan-ledakan sendiri haruslah dipandang sebagai saudara tua Indonesia. Sebagai saudara tua nan bijak, Aceh juga mesti dewasa mendengar teriakan penolakan dari seberang laut sumatera. Namun, setiap keputusan yang sudah diambil untuk mencirikan diri sebagai bangsa yang telah lebih dulu ada, Aceh harus dibiarkan mengembangkan diri dengan tampil berbeda dari daerah lain di Indonesia.

Gumam Penyair

 

Para pemikir terdahulu tak pernah mencoba sesekali untuk hepi-hepi atau berkelakar dengan santai tentang betapa bahayanya merokok sambil tengkurap.  Atau katakanlah nongkrong berjam-jam di warung kopi sambil berbagi pengalaman dengan para santri.

Pembual terbaik tak pernah berfatwa macam-macam. Ia bisa saja seorang humoris atau pemuda baik-baik tanpa cela dalam kehidupan. Bahkan, ia tak pernah berpikir untuk mencolek pantat perempuan jika ada kesempatan sekaligus dorongan seksual. Ciri-cirinya mudah dikenali. Orang seperti ini memulai hari dengan kepasrahan total. Berpikir positif dan menghindari persilangan pendapat dengan kaum kerabat. Namun, mereka akan berubah menjadi murka jika sewaktu-waktu anda menyindirnya sebagai si kolot.

Untuk itu, maka aku katakan padamu, ada beberapa hal yang harus kau lakukan jika ingin asmaramu berjalan lancar tanpa halangan.

Dalam roman penuh airmata, kita dapat menangkap kepedulian seorang kekasih. Mengirimkan seikat kembang dengan selembar doa. Pagi datang dan matahari mengantarkannya. Kita adalah budak perasaan sendiri. Takut kehilangan dan cenderung mudah terbawa situasi.

Goresan yang kau gores itu menggetarkan sukma jagat raya. Begitulah goresan yang kau gores itu menerawang angkasa menembus mega-mega. Goresan yang kau gores itu membangkitkan kehewanan yang lama terpendam.
Goresan yang kau gores itu menasbihkan cinta tanpa perbandingan.

Begitu membingungkan puisinya.

Agenda Tahunan yang Buram

Pastinya, Januari terseok-seok melewati hari-hari yang muda dan nampak ranum. Tahun baru bisa didefinisikan sebagai waktu terlama yang pernah kita lewati  karena malam berganti agak melambat.

Sebelumnya, ada banyak hal kita seret ke sana kemari tanpa mengharap bahwa ada seseorang yang iba. Mungkin jalan berliku atau semacam tanjakan. Kita tak tahu persis maksud-maksud pergantian tahun. Dan kita melewatinya dengan riang gembira sambil berikhtiar.

o

Entah apa gunanya menyalin riwayat-riwayat. Padahal semua yang telah lalu harus dihanyutkan tanpa perlu diberat-beratkan. Namun, seekor anjing sekali pun dapat memaknai kenangan dengan beragam cara. Bahkan, si bangsat yang sehari-hari menjadi orang penting, tahu bahwa yang telah berlalu usah diingat.

Di awal tahun dengan januarinya yang hambar, kita tahu angin tak pernah lelah menerbangkan rahasia-rahasia dalam arsip. Misal, tentang seseorang yang selalu berharap kelak menjadi orang penting, tentang rengekan bayi tengah malam yang haus. Tentang desah senggama yang sama sekali tak tabu.

Pengulangan-pengulangan yang membosankan adalah bodoh. Tahun berakhir jika laporan-laporan kantor kelar. Jika seorang kepala sekolah berhasil menghabiskan dana hibah dengan rapi. Jika tukang sayur untung besar, jika berita politik lebih nyentrik dari dasi loakan. Jika seorang istri dengan cermat menutup kalimat atas perselingkuhan yang tak berhasil terungkap.

Beberapa orang yakin, untuk melepas penat setahun harus dirayakan semalam. Merancang masa depan sama pentingnya dengan hasrat buang angin di tempat umum. Atau lebih sopan, sama berharganya dengan mempunyai binatang peliharaan yang penurut. Sebagian orang bijak telah mengagendakan perjalanan setahun ke depan dalam sejumlah catatan kecil dengan prediksi atas kemungkinan-kemungkinan lebih awal. Mengkalkulasikan untung rugi dari dini. Ini tak berkaitan dengan isi kantong semata-mata. Ini soal menciptakan peluang. Soal merekayasa keadaan.

@marxause

Kita tak tahu bahwa di atas meja-meja kekuasaan, seseorang dengan teliti membaca laporan-laporan dari lapangan. Laporan tahunan seorang kepala desa kepada camat yang mulia, laporan seorang prajurit kepada komandannya, laporan istri kepada suami. Laporan bupati kepada gubernur. Dan dalam arsip sangat rahasia itu, kita juga tahu bahwa sejumlah kebijakan diputuskan berdasarkan laporan-laporan. Atas bisikan-bisikan orang dekat dalam lingkaran kekuasaan. Terlihat bagus dan sistematis walau kadang sulit dipahami. Maka oleh itu karena, agar terlihat beradab dan waras, kita mesti membuat sketsa di kertas buram tentang tahun depan. Itu pun kalau tahun mau tamat.

Brat!

Sekolah, Gubernur, dan Kata Sambutannya

Di sekolah, debu tetap menciptakan kotor. kertas-kertas bekas tetap menempati tong sampah sampai berhari-hari. Dalam kelas, murid-murid malas tetap menginginkan sekolah diliburkan saja karena sama membosankan dengan memancing ikan. Sementara guru-guru dengan bijak mengantri mendapatkan upah dibayarkan. Selebihnya, sekolah tetap mempunyai daya tarik tersendiri karena mempunyai kantin tempat menghabiskan uang.

Kita tak pernah bertanya. Kita tak pernah dengan cerewet meminta seorang kepala sekolah berbagi hikmah tentang betapa rumitnya mengatur peruntukan uang untuk kepentingan pembelajaran. Dan tetap sabar menunggu pertanggungjawaban tertulis di mading sekolah setiap akhir pekan. Sehingga uang menjadi liar, terbang ke sana kemari tak terkendali. Dan kepala sekolah semakin tertekan karena tak ada tempat berbagi, soal betapa sulit mengendalikan kepemimpinan. Mirip-mirip kerja seorang gubernur sipil yang memimpin rakyat di barak serdadu.

Dalam sebuah pagi dalam upacara bendera, seorang gubernur berkata, “kepemimpinan itu hidayah dan kemahapemurahan Tuhan. Tuhan yang di langit sana memelototkan pandangan pada setiap insan. Maka, mana mungkin kita akan mengkhianati Tuhan. karena dia tak pernah ngantuk.” sambil menyeka peluh di jidat yang tak begitu lebar. Diusap-usap kumisnya yang tebal. Jam berputar melambat seperti siput yang linglung. Angin pagi terasa jauh lebih perih dari puisi Sapardi.

Iya, benar. Kepala pemerintahan benar. Dan kita pun mengaminkan doa-doa di pagi senin setelah bendera dikibarkan. Kita tahu doa pada acara seremoni dan rutin begini sama berharganya dengan kehadiran minuman pada jamuan makan malam yang pedas-pedas. Dan kita hadir tanpa diundang.

Sekolah tak pernah melarang kita untuk berekspresi. Di buka ruang lebar selebar-lebarnya. Kita dilindungi undang-undang dan kitab-kitab hukum yang tebal. Namun, jangan memaki. Tapi, tulislah sesuatu yang menyakitkan dalam diari-diari pribadi. Agar moralitas tetap tejaga. Perbanyak beristighfar jika mendengar sesuatu yang sedikit di luar nalar. Jika mendengar berita semisal terungkapnya selingkuh resmi dan berkait dengan urusan kedinasan. Jangan diam menanggapi setiap keanehan. Kita dicap tak berselera dan sedikit kekurangan semangat hidup.

Berita-berita tetap dihangatkan pagi-pagi dengan tingkah reporter janggal. Walau tanpa sarapan sekali pun, kita dapat dengan mudah membaca apa yang belum dan telah terjadi di sana. Walau kita sadar bukan paranormal.

@marxause

Hari-hari di awal tahun tak ubahnya segerombolan maling yang membawa lari barang-barang kepunyaan. Ingatan-ingatan lama dirampas dengan brutal dari pikiran. Kejadian-kejadian baru tanpa ampun memenuhi otak berkapasitas terbatas. Kejadian-kejadian itu menyibukkan kita untuk berjam-jam membereskan setiap hal. Dalam jam dinas kita tak butuh seseorang datang menghibur. Kalau tak dapat menghibur diri sendiri, gunakan menit-menit santaimu dengan berhayal bila kelak banyak uang, kita ingin memiliki sepetak kebun di bulan. ini serius.

Sekolah bukan gelanggang politik. Hanya satu bendera yang boleh bersenda gurau dengan angin setiap hari. Di sana, apa pun yang berbentuk politis-kaos kaki sekali pun- tak dimaklumkan untuk beranak pinak. Sekolah diperuntukkan buat  orang-orang yang semenjak kecil bercita-cita berdamai dengan masa depan. Apakah kita sudah lupa? sekolah tercipta bukan karena kita bodoh. Bukan karena kita takut jika tak sekolah akan repot berkomunikasi dengan tetangga kiri kanan. Bukan!. Dan tak mungkin. Oh iya, kita juga tak pernah takut jika  tanpa sekolah, maka tak ada yang dapat diharapkan pada seseorang untuk kita angkat sebagai pemimpin kita. Karena lembaga pemerintahan kita dari dulu sekali, tak pernah sekali pun kita dengar direbut paksa orang-orang dungu, paling-paling menjadi tempat berkumpulnya sekawanan keledai. Itu pun cuma fiksi.

Aceh, Sepuisi Birahi

Jika malam telah menyempit dan rada puitis, pulanglah pada dini hari dan menukik pada ketiaknya. Tanpa jeda dan kecup sayang, dan tak perlu musyawarah atas ranjang, engkau masih mampu untuk mengawetkan perasaan walau mengada-ada.

Kata menjadi tak penting manakala engkau sudah mampu mengarang-ngarang cerita tentang pembual yang kena pancung. Renggangkan kakimu manakala kekasihmu mengeluh sakit pinggang. Atau habiskan sebatang rokok menunggu birahi memuncak kembali.

Katakan padanya bahwa engkau tak pernah sekali pun mencoba untuk membayangkan sebuah percintaan harus pupus setelah segalanya dinikmati. Birahi hanyalah soal sepele dan tidak pernah dibicarakan sembarang tempat demi menjaga kesakrakalan.

Mungkin, jika suatu hari kau rindu mengulangi, ciptakan sajak bernuansa dini hari yang jika dibaca kaum politisi, akan konak sendiri dan lupa dana aspirasi. Sebab sajak, seperti haram masuk ranah politik. Padahal, penyairnya banyak yang jadi timses. Itu pun sembunyi-sembunyi.

Nanggro Aneh darussalam

Politik dan syahwat seksual sungguh memberi asupan energi demi kerja-kerja legislasi. Apalagi akhir tahun. Makanya, berpolitik dalam keadaan miskin seks, tak akan beres.

Bercumbu di kantor saat sidang paripurna dengan kertas-kertas dan opini fraksi, bikin kepala pusing. Gaji staf, pergub anggaran, demo mahasiswa dan tuduhan begal beasiswa, adalah rutinitas tekanan yang butuh disalurkan. Kantor dewan perwakilan rakyat bukan tempat yang baik buat obat pusing. Keluar kota pada akhir pekan, adalah penawar. Siapkan istri simpanan. Atau, sewa barang sebentar. Lupakan Aceh yang lagi berantakan dan rakyatnya yang lagi mabuk. Toh, dari dulu juga rakyat sendirian.

Banda Aceh yang kering dan berangin, akan terus begini hingga kelak. Saat bendera partai makin banyak. Krueng Aceh tetap mengirimkan desah warga hingga ke muara. Muntahannya di gampong Jawa makin keruh dan ikan-ikan menjauh.

Seorang politisi, yang telah berdandan rapi pakai minyak wangi siap ngantor. Menunggu sopir memanaskan mobil, ia teguk kopi buatan istri.

“Ma, kopinya pahit.”

“Yang manis-manis tidak ada lagi di rumah. Papa bisa dapatin di luar kota” sahut istrinya.

Sopir memanggil. Rumah lengang. Kopi, puisi dan istri ditinggal pergi. Aceh tetap berbirahi.

Huh!

Modus Operandi Sepi

Sepi tidak bisa dibeli. Meski kadang diobral pada saat kita tak tahu harus berbuat apa menyaksikan butir hujan satu-satu menempel di kaca. Saat dingin tidak bisa seenaknya menggigilkan kesunyian di sudut hati.

Tentang sepi dan ketaksanggupan kita melewatinya telah disyarah dengan sangat karikatural dalam kitab-kitab paling sial: ‘antologi puisi’.

Demi sepi yang terlalu sulit kita cekik, padamkan lampu saat merebahkan diri di tikar. Terlentang dan terbangkan angan-angan kemana suka. Singgah di hatinya atau membujuknya menanggalkan pakaian. Karena, “merawat sepi adalah bisa saja iming-iming cumbuan” kata teman saya.

That bahaya

Pada Selangkangan Pagi

Tak perlu menunggu saatnya menjadi ganteng untuk sekedar berhura-hura dengan istri kedua dan ketiga. Bermodal muka pas-pasan dan sedikit wajah datar seolah tanpa dosa,

Semua berjalan semestinya. Air tetap mengalir di sungai dengan atau tanpa dinikmati. ayam tetap berkokok saat fajar mulai samar-samar datang. Pagi tetap datang setelah bertarung melawan gelap. Ombak-ombak di pantai tetap bergemuruh mengayun-ayunkan boat nelayan di selat malaka. Gampong Jawa masih reuneum saat satu dua boat kecil melaut subuh ini.

Di selangkangan pagi, tak ada gairah yang bisa didiamkan. Tak ubahnya filsafat yang dinalarkan sungguh-sungguh dan bikin blo-on orang-orang yang telat bangun.