M A R U D O K

Marudok adalah makhluk rekaan yang tinggal di langit. Dalam bahasa Indonesia, Marudok lebih kurang berarti “Induknya mendung”. Langit yang tertutup awan hitam, semuanya lahir dari Marudok. Ia merupakan gumpalan awan yang menyendiri setelah melahirkan mendung-mendung. Dari mulutnya yang bergigi tajam, kelak akan lahir cerita-cerita tentang perang di bumi, huru-hara dan hura-hura elit penguasa bumi.

Continue reading “M A R U D O K”

Galeri Seni: Sebuah Pengantar

Pengantar: 

Esai ini saya tulis Januari 2015. Saya meniatkannya untuk dimuat di kolom apresiasi Serambi Indonesia. Namun tak pernah dimuat setelah beberapa kali revisi. Esai di bawah ini adalah esai yang belum saya revisi kala itu. Dari pada tersimpan dalam kotal terkirim, saya mempostingnya di sini. Saya tahu bahwa, galeri nasional tahun 2014 saat melakukan sosialisasi kala itu tahun 2014, sudah berbenah. Saya pun sudah tak lagi berharap adanya galeri di Aceh. Karena, ternyata ada tiadanya galeri seni rupa, @kanotbu telah beberapa kali mengadakan pameran seni rupa. Berharap pada pemerintah akhirnya jelas keliru. Lantaran, pemerintah Aceh super sibuk setelah perang.   Continue reading “Galeri Seni: Sebuah Pengantar”

HEROTISME

Saya cukup terhibur dengan perilaku politikus Aceh masa kini dan politikus masa lalu yang masih tetap berpolitik dengan sisa kekuatan. Saya mengamatinya dari koran harian dan paling dominan melalui media sosial fesbuk. Saya sama sekali tak terusik dengan apa yang diperbuat para politikus itu. Baik perkataan, status fesbuk dan cara-cara mereka bertengkar memperebutkan hak dalam APBA. Bagi saya, mereka seperti saya juga yang menjalankan tugas profesi. Sama-sama total dan sesekali tertawa walau tak menghibur. Atau kalau sedang sial, ditertawakan orang.

Tugas profesi politikus justru lebih berat. Selain rutin mengiklankan diri, mereka juga mesti punya nafsu lebih dan tak baik mereka tutupi nafsu itu. Nafsu diakui, terlihat bekerja keras memikirkan rakyat dan berusaha tampil bersih dari persengkongkolan. Apalagi di depan ustaz yang juga berpolitik diam-diam. Bahkan, jika mau ditambah nafus-nafsu itu, maka akan berderet membutuhkan satu lapangan bola kaki.

“Herotisme”Idrus bin harun. @2018. Pulpen pada blacu

Gambar berjudul HEROTISME saya buat sekitar bulan Juli lalu menggunakan pulpen. Itu adalah gambar pertama saya menggunakan pulpen di atas blacu. Kain yang lumayan tebal dan biasanya digunakan untuk bahan tote bag dan kerap dibagikan di seminar dan workshop yang dananya besar. Ukuran gambarnya sebesar 50X150 centimeter.

HEROTISME saya pilih sebagai judul setelah gambar selesai 80%. Artinya, saya tak mengonsepkan dari awal kemana gambar ini akan saya imajinasikan. Saya menuruti imajinasi saya sesuai dengan apa yang yang saya hayati dari kenyataan politik yang berlansung di Aceh setahun lalu. Misalnya bagaimana Irwandi Yusuf sebelum ditangkap KPK seakan-akan menjadi pahlawan baru yang nyaris tanpa cela. Lalu bagaimana pertikaian tak ada kata sudah antara Irwandi dan DPRA soal APBA yang diqanunkan. Dari dua fakta itu, saya mengilustrasikannya menjadi simbol-simbol yang lahir dari bawah sadar saya dan tentunya saya membutuhkan waktu untuk merekonstruksikan dalam bentuk yang ilustratif. Bentuk yang tak nyata sekaligus surealis.

Melalui gambar ini, saya lulus seleksi untuk program residensi seminggu di Yogyakarta yang diadakan oleh taman budaya yogya melalui program Nandur Srawung #5. Di program ini, gambar ini tak ikut serta dipamerkan. Gambar ini hanya sebagai contoh karya visual yang saya buat konsep dan saya uraikan maksud-maksud tanda yang tertera dalam gambar.

Saya tak menyebutnya ini lukisan. Karena saya tak peduli apakah saya melukis atau menggambar. Saya lebih senang bicara konsepnya dibandingkan harus muluk-muluk di kategori dan teknik serta genre.

Bulan lalu, saya kirimkan untuk ikut seleksi pameran yang diadakan oleh galeri nasional dengan tema pameran serambi seni. Karya ini lulus dan ikut dipajang bersama 36 karya lain. Di antaranya ada 6 karya koleksi negara yang dibawa dari Jakarta. Saya tahu, gambar ilustrasi yang dipajang bersama lukisan aneka warna, menjadi amat suram ungkapannya. Apalagi, tanpa saya bingkai. Tapi bagi saya, yang paling penting, orang bisa menikmatinya dan timbul diskusi kecil di depan karya dipajang. Itu sudah cukup berhasil.

Terakhir, karya ini saya jual kepada siapa saja yang berminat. Minat di sini maksudnya benar-benar ingin memiliki dari hati yang dalam. Soal harga, mana pernah mahal karya seni?

Dan penentuan harga dan tawar menawar akan berlansung terbuka di komentar.

Salam

@marxause

Bivak Emperom pada 2010

Kita menyebutnya republik, tanpa presiden dan dewan musyawarah. Hukum-hukum kita ciptakan sambil mencabut rumput. Hukum yang kita sepakati jika memang tak bikin mual, akan kita lestarikan sebagaimana tetangga kita melestarikan hewan buas yang hampir punah. Dan aturan-aturan temporer itu, jika sudah tak layak untuk berlaku, siapa saja antara kita, bebas membantingnya ke tembok pagar.

Akan tetapi Bivak Emperom tetap tak sesepi dahulu, ia bahkan sudah mampu memamerkan lika-liku jalannya sejak pemerintah menancapkan penerang penuh sentuhan estetik. Hingga beberapa kalanya angin mesum meluncur mulus dari ketinggian Glee Geunteng. Adakah ini isyarat paling rahasia dari alam yang memaksa kita untuk tak berlama-lama lagi memeluk guling?. Kita mesti menjawab secepatnya sebelum didahului kokok ayam rumah sebelah. Atau buru-burulah mengelabui perasaan seseorang.

Di sana, siapa saja pernah berupaya menciptakan suasana mirip-mirip puisi?. Bisa dikatakan tidak ada. Sebab bunga-bunga yang kita cabut paksa di pinggir jalan, tumbuh dengan keringatnya sendiri. Meskipun sekali-sekali kita tak sabar ingin melihatnya mekar walau baru kemarin kita tancap di tanah.

kita tak tercipta dari pemikiran filsuf atau kegilaan versi Bernard shaw. Juga tak dibesarkan oleh sikap kritis pendosa-pendosa politik. Tak mengherankan kalau sedikit gagap menjabarkan kekeliruan politisi yang rata-rata “klo prip”. Atau ikut-ikutan latah memaki keadaan yang tak kunjung mengganti pakaian seperti hajat orang banyak.  Bivak Emperom, seperti juga tempat lain. Ia memenuhi kewajibannya sendiri, dengan keberadaan kopi. Kami rutin menjenguknya, sekedar membasuh kepala dengan sanger panas atau kopi encer. Namun, sebab harga-harga sudah tak masuk akal, kian hari jantung kita sudah tak sekuat dulu. Untuk cafein-cafein yang brutal.

Mungkin, sudah waktunya berbicara kesenian selain bermain Pe-Es. Sebab kesenian juga seperti sifat Pe-Es. Membuat kita penasaran. Kesenian yang tidak sekedar untuk dipajang sebagai pemuas nafsu di akhir pekan. Kesenian yang ketika dilemparkan ke tengah-tengah rakyat putus sekolah akan memberi makna dan gairah buat melanjutkan kehidupan.

Mungkin seperti hikayat panjang yang dibacakan dalam event-event tertentu adalah salah satu wujud nyata dari pencapaian itu. Jangan terburu-buru menyebut puisi. Sebab puisi-puisi yang terlanjur kita tulis, mendadak dikembalikan redaktur. Kita juga bingung dengan puisi sendiri, kita mati-matian berupaya membuat orang rebah dalam kalimat, agar secepatnya disebut penyair. Penyair berkalung diksi indah.

Tapi, jangan berusaha mengikuti Rendra atau Afrizal Malna. jangan pergi bersama sitor situmorang untuk bertapa di bukit kata. Enyahkan Sutardji dari pemilahan makna untuk kata-kata kita. Biarkan ia mabuk dengan mantra-mantra individualisnya sendiri. Kelak ia bosan sendiri.

Untuk ukuran kita, kata-kata punya kelebihan sendiri untuk diakrobati saat benak tak stabil benar.

Gumam Penyair

 

Para pemikir terdahulu tak pernah mencoba sesekali untuk hepi-hepi atau berkelakar dengan santai tentang betapa bahayanya merokok sambil tengkurap.  Atau katakanlah nongkrong berjam-jam di warung kopi sambil berbagi pengalaman dengan para santri.

Pembual terbaik tak pernah berfatwa macam-macam. Ia bisa saja seorang humoris atau pemuda baik-baik tanpa cela dalam kehidupan. Bahkan, ia tak pernah berpikir untuk mencolek pantat perempuan jika ada kesempatan sekaligus dorongan seksual. Ciri-cirinya mudah dikenali. Orang seperti ini memulai hari dengan kepasrahan total. Berpikir positif dan menghindari persilangan pendapat dengan kaum kerabat. Namun, mereka akan berubah menjadi murka jika sewaktu-waktu anda menyindirnya sebagai si kolot.

Untuk itu, maka aku katakan padamu, ada beberapa hal yang harus kau lakukan jika ingin asmaramu berjalan lancar tanpa halangan.

Dalam roman penuh airmata, kita dapat menangkap kepedulian seorang kekasih. Mengirimkan seikat kembang dengan selembar doa. Pagi datang dan matahari mengantarkannya. Kita adalah budak perasaan sendiri. Takut kehilangan dan cenderung mudah terbawa situasi.

Goresan yang kau gores itu menggetarkan sukma jagat raya. Begitulah goresan yang kau gores itu menerawang angkasa menembus mega-mega. Goresan yang kau gores itu membangkitkan kehewanan yang lama terpendam.
Goresan yang kau gores itu menasbihkan cinta tanpa perbandingan.

Begitu membingungkan puisinya.

Modus Operandi Sepi

Sepi tidak bisa dibeli. Meski kadang diobral pada saat kita tak tahu harus berbuat apa menyaksikan butir hujan satu-satu menempel di kaca. Saat dingin tidak bisa seenaknya menggigilkan kesunyian di sudut hati.

Tentang sepi dan ketaksanggupan kita melewatinya telah disyarah dengan sangat karikatural dalam kitab-kitab paling sial: ‘antologi puisi’.

Demi sepi yang terlalu sulit kita cekik, padamkan lampu saat merebahkan diri di tikar. Terlentang dan terbangkan angan-angan kemana suka. Singgah di hatinya atau membujuknya menanggalkan pakaian. Karena, “merawat sepi adalah bisa saja iming-iming cumbuan” kata teman saya.

That bahaya

Limbung ditusuk Sepi

Kita adalah filsuf bagi diri sendiri. Meskipun tanpa pengalaman dan sekolah tinggi-tinggi. Kita tetap disambut hangat di sejumlah pasar. Karena kita pintar dan bergaji. Terus, setiap hari mabuk puisi. Bahkan seorang penyair  paling cerewet sekali pun tidak sampai hati harus mendeklamasikan syair di depan kita. Karena kita sendiri adalah puisi yang selalu saja misteri.

Suatu hari nanti kita akan sangat inspiratif menjalani hidup ini setelah berkali-kali limbung ditusuk sepi. Lalu, kita dengan tergopoh-gopoh berbagi tips tentang mengarungi hidup yang seringkali sulit diprediksi. Sebenarnya kita hanya mengada-ada dan kebetulan sekali kita menguasai ilmu berbahasa yang lumayan bagus dan berbakat menjadi pembual.

Our History

Sejarah yang sampai ke tangan kita telah lapuk dan beruban. Betapa tuanya.

Hari ini, sejarah kita makin panjang dan dijejerkan sepanjang jalan buntu. Di galeri-galeri ingatan yang kian pikun.

“Sejarah  belum bisa menjadikan kita aqil baliqh,” kata sejarahwan lokal. Kita harus berkali-kali lagi mengalami mimpi basah agar memori tak mudah lekang.

Di kota kita, sejarah dibuat berbeda atas kehendak pemuka-pemuka politik. Di kampung-kampung sejarah diatasnamakan.

Penyair Sepertiku

“Jadilah tikus nakal di hati siapa saja yang kau anggap dungu.”

Zaman yang gemuk macam sekarang, penyair sepertiku otomatis menjadi juru bicara kebenaran yang mengkhotbahi orang pacaran di pinggir pantai. Itu pun kalau lagi JJS di akhir pekan. Kalau tidak, aku akan menulis puisi di kamar sambil dengar-dengar mp3 dan nonton ceramah Abdul Somad. Itu pun kalau jaringan kuat, berlimpah kuota.

Dahulu, sebelum memutuskan menjadi penyair, daku tak berkumis. Kupelihara janggut setumpuk di dagu sebagai cara menghemat pencukur. Kadang ketika berkaca kumerasa mirip-mirip ustaz televisi. Menjadi penyair tanpa kumis, kata temanku yang penyair, terlihat kurang nyentrik dan tak merdeka.

“Biar saja tebal dan menonjol yang penting rutin dirapikan tak mengapa.” Katanya.

Ia menekankan, kumis adalah simbol ketakseriusan. Kumis menjadi sarana pembeda antara puisi yang gemulai dan kasar.

Lalu, karena puisi adalah kemerdekaan pribadi, maka tak semua penyair berkumis mampu menulisnya. Bahkan diriku sendiri. Sehingga aku terdorong untuk menulis sajak paling pribadi dan paling hati-hati.

Sajak-sajak-ku bercerita tentang cinta, dewa-dewa, tahta dan budi pekerti raja yang bijaksana. Pernah kucoba menulis puisi naratif dengan bahasa sehari-hari, malah jadinya seperti ratapan tanpa isak. Senggama tanpa orgasme. Melambung tanpa melompat. Sentuhan tanpa ereksi.
Bahkan, hasil akhirnya selintas estetik
namun pada dasarnya, Taik

 

Yang Ringan-Ringan dari Asmara

 

Membanding-bandingkan tatapanmu dengan mata kucing biasanya membuatku lekas ngantuk. Membayangkan engkau kelak beranak pinak tanpa kasih sayang semestinya, serta merta membuatku menghindari membuat pernyataan resmi tentang perasaan-perasaan ganjil. Ini puisi terakhir tentang kasus-kasus asmara yang kadangkala terlalu berlebihan ditanggapi. kau tahu? orang semakin malas memperdebatkan sesuatu yang sifatnya relatif. Duduk di warung kopi, berdiskusi, curhat dan lalu patah hati. Atau mencampuri urusan orang lain dengan kehendak menggurui. Masalah-masalah pribadi dibongkar tanpa ampun. Dan warung kopi menjadi semacam pasar yang menjual keluhan-keluhan.

Kita dibesarkan dalam budaya lawak yang pada dasarnya teramat sulit buat ditertawakan. Televisi, papan rekalame, selebaran, brosur-brosur telah memenuhi kepalaku dan ruang hatimu.

Lalu di sepanjang tutue pante pirak saat iklan-iklan papan reklame mengencingi kepala kita dari atas, aku kehilangan kata cinta. Kita memungut asmara yang terkontaminasi polusi. Urbanisme menjadikan ruang di kepala kita tak muat menempatkan asmara. Kita hanya bisa memalsukannya atas nama dorongan seksual. Selebihnya, berpura-pura alim ketika musik-musik erotis diperdengarkan di rumah-rumah bordil.

Maka, pulanglah setelah melampiaskan libido. dan bawakan aku cinta yang ringan-ringan. dan mudah ditertawakan di saat waktu senggang.