[Hikayat] Sebiji Batang Ganja

Hikayat ini saya tulis untuk keperluan penampilan @fooart alias Fuady. Seniman @kanotbu spesialis hikayat dan musik. Hikayat ini dibacakan atau lebih tepatnya dinyanyikan dengan diiringi oleh Wukir Suryadi dari band Senyawa yang eksperimental dan Eko Potro Joyo yang memusikkan sastra kebatinan Jawa sebagai arsip sastra kuno.
Saya dan Fuady sering bekerja sama menulis hikayat. Dia sangat banyak memiliki perbendaharaan kata Aceh yang jarang saya dengar. Sementara saya hanya menggunakan kata-kata sehari. Modal saya menulis hikayat cuma menjaga antukan baris atas dan baris bawah saja tetap pas. Soal tema, saya mendiskusikannya dengan Fuady biasanya.

Continue reading “[Hikayat] Sebiji Batang Ganja”

Banda Aceh dalam Magrib Ulee Lheue

Jika aku seorang pelukis sentimentil, aku tak memintamu memuisikan matahari tenggelam di Ulee Lheue yang riuh lalu lalang sepeda motor. Untung saja aku pelantun azan yang tak membiarkan puisi-puisimu mendahului sembahyang.

Magrib yang reuneum dengan arak awan yang digerakkan menuju pulau Sabang, mengingatkanku pada kepergian saudara-saudaraku magrib 24 Desember 2004 lalu. Saat Ulee Lheue benar-benar sepi dan tak ada satu pun  penyair yang mampu menerjemahkan setelahnya.

Ulee Lheue tak akan jadi puisi. Kecuali pemerintah memaksa membuat satu antologi bagi penyair istana sebagai sumbangsih peradaban bahwa teks puisi sama pentingnya dengan kompetisi merebut kursi walikota Banda Aceh; terlihat beradab di permukaan.

Mungkin, dalam riak kecil di bibir pantai, aku akan menemukan pesan dari orang yang pernah diseret gelombang pada 26 Desember lalu; bahwa kota kian berkembang biak hingga merampas garis pantai. Banda Aceh tumbuh sesuai selera pemerintah dan abai bencana.

Jika aku telah jadi pelukis, aku tetap melantunkan kenangan saat-saat mendekati azan. Ulee Lheue bisa sedikit rehat.

Sepuisi Himbauan

Pabila kata-kata pelan-pelan kendur dan tak sanggup mewakilkanku mempuitiskan kampung dan pantai di belakang rumah, aku akan berbaik-baik dengan nafsuku untuk menghasilkan sebuah buku himpunan sajak lengkap yang menuntun orang untuk mengerti bahwa betapa lunglainya kata-kata jika sudah bicara tentang cinta. Mungkin juga sunyi dan rindu. Sebab, di dalam tiga kata itu, ada banyak hal-hal remeh dipenjarakan agar puisi-puisiku gagah.

Jika kata-kata pelan-pelan mulai kendur di kampungku. Aku akan menulis puisi-puisi pendek sarat emosi di Yogyakarta, Denpasar dan Bandung. Jakarta terlalu tak bisa kuharap banyak untuk “cinta sunyi dan rindu”. Sebagai penyair, aku tak punya senjata lain. Satu-satunya jalan menyelamatkan diri dari bingung di negeri orang hanyalah membuat sketsa melalui kata-kata. Selebihnya memotret diri saat di tempat tidur hotel dan gosok gigi.

Pada saat kata-kata kendur di Indonesia, kota terdekat mana yang akan menampung puisiku yang selalu bicara cinta,sunyi dan rindu? Aku yakin tak semua kota secengeng puisi-puisiku.

Mungkin aku harus ke Bireuen. Membantu bupati mengetik banyak himbauan.

Gumam Penyair

 

Para pemikir terdahulu tak pernah mencoba sesekali untuk hepi-hepi atau berkelakar dengan santai tentang betapa bahayanya merokok sambil tengkurap.  Atau katakanlah nongkrong berjam-jam di warung kopi sambil berbagi pengalaman dengan para santri.

Pembual terbaik tak pernah berfatwa macam-macam. Ia bisa saja seorang humoris atau pemuda baik-baik tanpa cela dalam kehidupan. Bahkan, ia tak pernah berpikir untuk mencolek pantat perempuan jika ada kesempatan sekaligus dorongan seksual. Ciri-cirinya mudah dikenali. Orang seperti ini memulai hari dengan kepasrahan total. Berpikir positif dan menghindari persilangan pendapat dengan kaum kerabat. Namun, mereka akan berubah menjadi murka jika sewaktu-waktu anda menyindirnya sebagai si kolot.

Untuk itu, maka aku katakan padamu, ada beberapa hal yang harus kau lakukan jika ingin asmaramu berjalan lancar tanpa halangan.

Dalam roman penuh airmata, kita dapat menangkap kepedulian seorang kekasih. Mengirimkan seikat kembang dengan selembar doa. Pagi datang dan matahari mengantarkannya. Kita adalah budak perasaan sendiri. Takut kehilangan dan cenderung mudah terbawa situasi.

Goresan yang kau gores itu menggetarkan sukma jagat raya. Begitulah goresan yang kau gores itu menerawang angkasa menembus mega-mega. Goresan yang kau gores itu membangkitkan kehewanan yang lama terpendam.
Goresan yang kau gores itu menasbihkan cinta tanpa perbandingan.

Begitu membingungkan puisinya.

Modus Operandi Sepi

Sepi tidak bisa dibeli. Meski kadang diobral pada saat kita tak tahu harus berbuat apa menyaksikan butir hujan satu-satu menempel di kaca. Saat dingin tidak bisa seenaknya menggigilkan kesunyian di sudut hati.

Tentang sepi dan ketaksanggupan kita melewatinya telah disyarah dengan sangat karikatural dalam kitab-kitab paling sial: ‘antologi puisi’.

Demi sepi yang terlalu sulit kita cekik, padamkan lampu saat merebahkan diri di tikar. Terlentang dan terbangkan angan-angan kemana suka. Singgah di hatinya atau membujuknya menanggalkan pakaian. Karena, “merawat sepi adalah bisa saja iming-iming cumbuan” kata teman saya.

That bahaya

Limbung ditusuk Sepi

Kita adalah filsuf bagi diri sendiri. Meskipun tanpa pengalaman dan sekolah tinggi-tinggi. Kita tetap disambut hangat di sejumlah pasar. Karena kita pintar dan bergaji. Terus, setiap hari mabuk puisi. Bahkan seorang penyair  paling cerewet sekali pun tidak sampai hati harus mendeklamasikan syair di depan kita. Karena kita sendiri adalah puisi yang selalu saja misteri.

Suatu hari nanti kita akan sangat inspiratif menjalani hidup ini setelah berkali-kali limbung ditusuk sepi. Lalu, kita dengan tergopoh-gopoh berbagi tips tentang mengarungi hidup yang seringkali sulit diprediksi. Sebenarnya kita hanya mengada-ada dan kebetulan sekali kita menguasai ilmu berbahasa yang lumayan bagus dan berbakat menjadi pembual.

Our History

Sejarah yang sampai ke tangan kita telah lapuk dan beruban. Betapa tuanya.

Hari ini, sejarah kita makin panjang dan dijejerkan sepanjang jalan buntu. Di galeri-galeri ingatan yang kian pikun.

“Sejarah  belum bisa menjadikan kita aqil baliqh,” kata sejarahwan lokal. Kita harus berkali-kali lagi mengalami mimpi basah agar memori tak mudah lekang.

Di kota kita, sejarah dibuat berbeda atas kehendak pemuka-pemuka politik. Di kampung-kampung sejarah diatasnamakan.